00:00Epo, kita nomor dua lompatannya dunia setelah Brazil.
00:04Ini tidak cukup, Amerika juga mengatakan.
00:07Indonesia, ini 34 ton kah? 34 juta.
00:11Ini Amerika.
00:15Ini United States Department of Agriculture.
00:19Ini.
00:21Tapi dia tidak mau lihat itu.
00:23Katanya tidak sesuai sembahat.
00:24Lah, impornya kan di tangan kami.
00:27Yang herannya, pada saat impor 7 juta ton,
00:31dua tahun, 100 triliun nilainya, kurang lebih dengan jagung,
00:34diam.
00:36Dia kayaknya bahagia sekali.
00:38Tidak mengamat kalau impor.
00:40Tapi begitu kita sesuai sembahat, dia mengamata bisa-bisa.
00:42Kira-kira, gimana menurutmu?
00:44Kayaknya menurutmu, ini orang gimana?
00:45Dia faham, ini orang.
00:47Dia berteriak pada saat kita impor.
00:51Saya ulangi ya.
00:52Pada saat kita impor 7 juta ton,
00:56dia diam.
00:58Begitu kita tidak impor,
00:59dia berteriak,
01:00ini tidak sesuai sembahat,
01:01ini karangan.
01:03Datanya bukan dari pertanyaan.
01:04Menurutmu,
01:05kalau kita impor,
01:06berarti memberi uang 100 triliun kepada petani Thailand,
01:13India, Pakistan, Vietnam.
01:17Dan dia diam pada saat itu.
01:18Bahagia kelihatan.
01:20Menurutmu,
01:20anti asing atau anti Indonesia?
01:24Tapi wajar.
01:25Jangan kamu terlalu ambil hati.
01:27Waktu kita mau merdeka,
01:29ada orang yang berada di sisi Belanda.
01:32Dan mungkin masih turunannya atau residunya.
01:34Sampai hari ini.
01:36Sepakat bahwa dulu
01:37ada pengkhianat bangsa?
01:39Lah, mungkin.
01:41Kita tidak boleh menuduh,
01:42tapi mungkin
01:43itu masih residunya yang tinggal di Indonesia.
01:46Udah aku belak-belakan aja.
01:48Kalau saya ketemu gini,
01:49saya giniin.
01:50Gimana teman?
01:51Menyesal.
01:52Ini sesebada Indonesia.
01:53Saya di PESC saya biasa.
01:54Gimana teman?
01:56Ah, saya menyesal juga.
01:57You tunjuk saya jadi menteri.
01:59Sesebada,
01:59nggak import, nggak ada.
02:03Ini.
02:05Nah, inilah diserang habis-habisan.
02:08Oke?
02:17Sesebada Indonesia.
Komentar