Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
Maba UI Lempar Pertanyaan Menohok ke Bima Arya: Pilih Pendidikan atau Makan Bergizi Gratis

Seorang mahasiswi baru Universitas Indonesia (UI) menyuarakan pertanyaan tajam kepada Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto saat acara Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) di Balairung UI, Depok, Senin (3/8).

Ia mengungkapkan keprihatinannya mengenai banyaknya rekan sejawat yang terpaksa batal kuliah meski lolos jalur SNBP dan SNBT akibat kendala finansial. Dengan lugas, ia melontarkan pertanyaan, "Menurut bapak, mana yang lebih penting, pengembangan pendidikan atau pengembangan Makan Bergizi Gratis?"

Menanggapi hal tersebut, Bima Arya menegaskan pentingnya sektor pendidikan seraya menekankan perlunya evaluasi pada program MBG. "Jawabannya jelas. Pendidikan penting dan MBG harus dikoreksi," ujar Bima Arya.

#UniversitasIndonesia #MBG #BimaArya

Creative/Video Editor: Lia/Evan
===================================
Homepage: https://www.suara.com
Facebook Fan Page: https://www.facebook.com/suaradotcom
Instagram:https://www.instagram.com/suaradotcom/
Twitter: https://twitter.com/suaradotcom
Transkrip
00:00Izinkan saya teman-teman dan Bapak Ibu sekalian yang sangat saya hormati, izinkan saya memperkenalkan diri saya, saya Givalyota dari
00:07IBS sekali lagi, izinkan saya membuka dengan sebuah kutipan dari Suhogi, hanya ada dua pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus,
00:18tetapi saya lebih memilih menjadi manusia yang merdeka.
00:25Oke, pertanyaannya sikat.
00:26Tapi bagaimana teman-teman, kami mahasiswa memiliki satu hak yang paling penting, yaitu merdeka belajar, tapi sayang sekali di jalur
00:39SNBP dan SNBT, banyak teman seperjuangan kami yang tidak melakukan daftar ulang karena keterbatasan ekonomi.
00:54Ini Bapak Ibu yang sangat saya hormati, ini adalah sebuah pernyataan dan pernyataan ini berkesinambungan dengan pertanyaan saya, pertanyaan saya
01:05singkat saja.
01:06Bapak Ibu yang sangat saya hormati, izinkan saya bertanya, menurut Bapak mana yang lebih penting pengembangan pendidikan atau pengembangan makan
01:18bergizi gratis?
01:25Sudah ya Jipa, dapat, terima kasih.
01:28Terima kasih.
01:43Saya langsung jawab yang terakhir.
01:45Siap, Pak. Zipa, Pak.
01:47Ya.
01:50Anda SMA-nya di mana?
01:52Saya SMA di Bekasi, Pak.
01:54Bekasi.
01:54Keren banget pertanyaannya, tepuk tangan ya.
02:00Jawabannya jelas.
02:03Pendidikan penting dan MBG harus dikoreksi.
02:06Ya itu.
02:09Cukup ya.
02:11Ya.
02:13Ya, banyak adik-adik sekalian, banyak hal-hal baik, banyak target-target ideal, tapi tidak sesuai,
02:23karena gagal, lemah dalam eksekusi atau implementasi.
02:29Betul.
02:30Ya, jadi hari ini kita maksimal habis-habisan untuk mengkoreksi mana yang perlu dikoreksi.
02:38Ya, untuk mengawal agar semua bisa merasakan, kira-kira begitu ya.
02:43Yang kedua, tadi pertanyaan juga keren banget ini.
02:48Ya, betul.
02:49The future of Indonesia.
02:50Yang wajahnya kayak filsuf tadi itu.
02:52Tapi anak fasil kok, Pak?
02:54Ya.
02:55Kok?
02:55Iya.
02:56Mukanya kayak komputer katanya.
03:00Itu.
03:03Oke.
03:08Jadi, kira-kira saya tanggap ya, ke depan itu pemimpin kita teknokratik atau populis gitu ya.
03:14Betul, betul, betul.
03:16Ya.
03:17Kamu siapa namanya tadi?
03:19Alfasit ya.
03:21Alfasit.
03:22Alfasit.
03:23Alfasit, ya.
03:27Kalau kita lihat, di dunia ini selalu ada tren.
03:32Tren.
03:33Kadang mengarah kepada populism, kadang mengarah kepada teknokratik.
03:37Betul.
03:38Ada masanya pemimpin muda berkuasa.
03:40Betul.
03:41Dulu ada Barack Obama, ada beberapa pemimpin muda.
03:44Ada kalanya tua-tua.
03:45Ini fenomen yang menarik.
03:46Ya, teman-teman di HI bisa mengkaji itu.
03:49Ada kalanya muncul kekuatan-kekuatan kanan.
03:53Ya.
03:53Itu apa?
03:54Itu cerminan dari kondisi politik masing-masing negara seperti apa.
04:00Pemimpin itu refleksi dari sistem politik dan kondisi yang ada.
04:05Artinya apa?
04:07Kalau kita ingin pemimpin yang ideal, yang tidak saja memainkan sentimen populis,
04:15tapi pendekatannya teknokratik, maka ya pemilihnya harus betul-betul terdidik semua.
04:23Betul.
04:24Kita ini punya persoalan serius.
04:27Saya baru baca postingnya Mas Gita Wirjawan.
04:30Menurut saya keren ya.
04:32Ketika misalnya yang lebih cepat viral karena joget dangdutnya, itu lebih diapresiasi misalnya daripada kompetensi dan kemampuannya.
04:45Betul.
04:46Kira-kira gitu ya.
04:47Ya, ya, ya.
04:48Itu adalah PR kita hari ini.
04:49Benar, benar.
04:50Mampu enggak kita sama-sama beri tiar agar pendidik pemilih-pemilih kita ini ketika memilih,
04:59ya memilihnya berdasarkan kompetensi dan karakternya daripada atribut-atribut yang kurang penting lainnya.
05:05Gimik-gimiknya.
05:07Gimik-gimik lainnya.
05:07Iya.
05:08Kan itu.
05:10Saya kan enggak bisa joget TikTok.
05:13Tapi kalau pidato, kalau orasi, adu konsep, oke.
05:16Ya, artinya orang seperti saya enggak akan pernah terpilih menjadi orang nomor satu kalau algoritmanya masih seperti ini.
05:22Benar.
05:23Benar enggak?
05:23Benar, benar, benar.
05:25Nah, jadi menjawab pertanyaan Anda,
05:28ikhtiar agar memunculkan pemimpin berkualitas yang punya kemampuan teknokratik akan berbanding lurus dengan kemampuan kita memberikan edukasi dan mensejahterakan rakyat
05:40atau warga.
05:41Itu.
05:41Kira-kira itu ya.
05:42Iya.
05:42Terima kasih Pak.
05:45Terima kasih Pak.
Komentar

Dianjurkan