Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 3 jam yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Iran memperingatkan bahwa langkah Presiden AS Donald Trump berpotensi memicu perang dunia tiga setelah Trump menyebut perundingan terbaru dengan Teheran sudah dalam tahap akhir mencapai kesepakatan.

Apakah ini strategi Trump kuasai Selat Hormuz? lalu bagaimana kesepakatan seperti apa sebenarnya dari Iran terkait damai maupun kuasa Selat Hormuz?

Kita akan bahas bersama Pengamat Timur Tengah Hasibullah Satrawi dan Dosen Departemen Hubungan Internasional Universitas Airlangga M Ayub Mirdad.

Produser: Theo Reza

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/684227/pengamat-timur-tengah-dosen-hi-soal-iran-kecam-as-trump-bisa-memantik-perang-dunia-iii
Transkrip
00:00Saudara Iran memperingatkan bahwa langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump ini berpotensi untuk memicu perang dunia tiga setelah Trump menyebut
00:07perundingan terbaru dengan Teheran sudah dalam tahap akhir mencapai kesepakatan.
00:13Apakah ini strategi Trump untuk menguasai Salat Hormuz? Lalu bagaimana? Kesepakatan seperti apa sebenarnya dari Iran terkait dengan damai maupun
00:22kuasa Salat Hormuz?
00:23Kita akan bahas bersama dengan pengamat Timur Tengah Hasibullah Satrawi dan juga dosen Departemen Hubungan Internasional dari Universitas Erlangga, M.
00:31Ayub Mirdad.
00:32Selamat pagi Bapak-Bapak, Assalamualaikum.
00:36Waalaikumsalam, selamat pagi Mbak Adisti.
00:38Iya, saya ke Pak Hasibullah Satrawi dulu. Pak Hasibullah, ini kalau kita lihat ya, tampaknya dari Teheran ini memberikan pemahaman
00:45kalau memang Iran dan juga Amerika Serikat ada ketidaksepahaman di sana.
00:51Nah, apakah ini jadi strategi Trump untuk meningkatkan serangan atau seperti apa kalau dari kacamata Anda?
00:58Baik, terima kasih Mbak Adisti. Selamat pagi Pemirsa Kompas TV dimanapun berada.
01:03Sebelum kita masuk kepada analisa-analisa, saya ingin menyampaikan beberapa fakta perkembangan terbaru.
01:10Minimal di hari ke-27 dari perang di bab ke-2 ini atau di hari ke-160 dari perang semenjak
01:2028 Februari.
01:22Yang bisa kita sampaikan yang pertama, bahwa memang ada perundingan intensif bahkan cukup maju di antara Iran dengan Oman.
01:31Dua pihak yang khusus dua pihak, Amerika tidak terlibat kalau kata Iran, walaupun Amerika sendiri selalu menyampaikan ini dan itu.
01:40Tapi secara faktual yang lunding adalah dua pihak ini.
01:45Yang kedua bahkan perkembangannya dianggap sudah sangat maju, sekarang sudah sampai pada tahap istilahnya membawa berkas atau draft ini pada
01:54proses piramida kekuasaan di Iran.
01:57Terutama mendapatkan persetujuan dari Ayatullah Muttabah Hamani.
02:02Dan yang ketiga, ini berkaitan dengan subtansinya, ini adalah terutama terkait dengan perubahan rute di pelayaran Hormuz.
02:11Kalau selama ini ada rute selatan, ada rute utara yang di sisi Iran, maka yang disampaikan yang hampir disepakati hari
02:19ini adalah rute di mana ada perubahan.
02:24Dan ini akan dimulai masuk daripada sisi utara, dari sisi Iran, lalu kemudian kapal-kapal akan keluar dari sisi selatan
02:34di sisi Oman.
02:35Ini perubahan rutenya sejauh yang kita ikuti di media-media.
02:40Dan yang ketiga, perkembangan dari terbaru ini, kalau benar ini nanti disetujui, maka memang akan sangat menguntungkan bagi Iran.
02:50Karena bahkan kalau dibandingkan dengan rute sebelumnya yang dipakai katakanlah semenjak revolusi 79, itu kan justru lebih banyak rutenya di
03:00jalur internasional.
03:01Nah, justru di rute yang baru ini lebih banyak perairan yang digunakan adalah dari sisi Iran, dari sisi utara, dan
03:08itu akan dijadikan sebagai pintu masuk bagi kapal-kapal, dan keluarnya nanti adalah di sisi selatan.
03:14Itu kurang lebih fakta-fakta yang bisa kita sampaikan.
03:19Nah, bagaimana dengan klaim sana-sini, saya terus terang melihatnya itu bagian daripada sisi politiknya.
03:26Nah, di sini secara analisis paling tidak, saya bisa sampaikan Amerika mencoba menggunakan yang saya sebut sebagai politik telur mata
03:36sapi.
03:37Politik telur mata sapi itu yang bertelur adalah ayam, tapi yang dapat nama adalah sapi.
03:43Yang berunding itu adalah Iran dengan Oman, yang mencoba untuk mengambil nama, termasuk mencoba untuk menyampaikan progres-progres, itu adalah
03:52Amerika.
03:53Nah, sepertinya memang ini saya harus mengutip realitas yang sangat menyakitkan bagi kita semua, yaitu pertandingan timnas kita dengan Vietnam
04:04yang kita dikalahkan 3-0.
04:07Sepertinya Iran betul-betul seperti Vietnam dalam pertandingan itu yang mencoba untuk menutup celah sedikit mungkin yang bisa dieksploitasi oleh
04:17Amerika untuk dijadikan sebagai klaim kemenangan.
04:21Sehingga kalau kemudian ditanya, apakah ini kemungkinan ada strategi baru termasuk eskalasi yang perang dunia ketiga, atau bahkan kalau kata
04:30Amerika ini bisa jadi lebih besar daripada perang dunia.
04:33Saya melihat ujungnya menurut saya cukup mungkin berbagai macam eskalasi itu.
04:39Terutama kalau cara, katakanlah cara berunding Iran yang sekali lagi tidak mau didekti oleh Amerika, dia ingin mengawal seluruh kepentingannya,
04:50itu tidak berunding.
04:51Karena, saya lupa tadi satu lagi poin yang tidak kalah penting dari faktanya, Iran mengatakan bahwa walaupun kesepahaman dengan Hormuz
05:01ditanda tangani dengan Oman, ini tidak berarti pembukaan dan normalisasi kembali Hormuz.
05:07Karena bagi Iran, kalau ingin Hormuz dikembalikan lagi, maka Amerika harus memenuhi yang disebut sebagai kesepahamannya dengan Iran pada tanggal
05:1618 Juni.
05:17Oke, kalau kita lihat ini kan ada ketidaksepahaman antara Amerika Serikat dan juga Iran, kalau tadi disebutkan oleh Pak Hasibullah,
05:24ada perubahan jalur pelayaran di Hormuz, jalur utara dan juga jalur selatan.
05:30Yang kita tahu Pak Ayub, ini adalah kesepakatan antara Iran dan juga Oman, tapi kemudian diklaim oleh Amerika Serikat bahwa
05:36mengklaim juga ini kesepakatan tinggal finalisasi lah.
05:40Begitu ya, tapi kemudian ini memicu kemarahan dari Teheran yang mengatakan ini berpotensi menjadi perang dunia ketiga gitu ya.
05:50Nah, apa yang hendak diciptakan? Potensi semacam apa yang akan diciptakan? Benarkah ada potensi untuk perang dunia ketiga?
06:02Baik, saya juga setuju dengan Pak Hasbi tadi yang sampaikan, tapi kalau saya melihat potensi perang dunia ketiga masih sangat
06:13kecil.
06:16Karena kalau kita membandingkan perang dunia satu dan dua dan anggap saja perang dunia ketiga, tidak ada situasi ini atau
06:25indikator untuk terjadinya perang dunia ketiga.
06:29Nah, karena tidak ada blok-blok yang besar atau antara negara-negara yang kekuatan besar, tidak ada keterlibatan negara-negara
06:38besar seperti Rusia, China atau negara-negara lain.
06:41Jadi, potensi kejadian dari perang dunia ketiga itu sangat kecil.
06:47Tetapi ada tiga skenario menurut saya kenapa Iran menggunakan perang dunia ketiga.
06:55Menurut saya yang pertama itu Iran ingin membangun efek deterrence.
06:59Apa artinya itu untuk membuat Amerika Serikat dan termasuk suku dunia itu Israel berpikir bahwa dua kali sebelum memperluas serangannya.
07:12Karena Trump sudah mengancam bahwa ini perundingan terakhir akan terjadinya gini-gini ini.
07:18Karena Iran mengingatkan mereka.
07:20Karena akan ada konsekuensi yang harus mereka juga hadapi jika terjadinya serangan terhadap Iran.
07:26Itu yang pertama.
07:27Dan konsekuensi ini akan lebih besar daripada sebelumnya.
07:30Dan yang kedua, Iran sebenarnya juga sedang membentuk simpati internasional atau persepsi atau opini internasional.
07:40Dengan menggunakan istilah perang dunia ketiga atau istilah dramatis itu.
07:45Yang supaya ada tekanan dari masyarakat internasional terhadap Amerika Serikat.
07:52Dan untuk mencegah dari perluasan atau perang tersebut ini.
07:57Karena Iran ingin membangun opini internasional bahwa konflik ini memang sangat berbahaya.
08:04Semua negara sudah merasakan atau sudah terdampak khususnya dari sisi ekonomi.
08:09Semua sudah harga menyiak naik, bahan baku naik, semuanya.
08:12Jadi Iran ini ingin melakukan itu melalui persepsi internasional.
08:17Dan yang ketiga, ini juga jangan kita abaikan bahwa situasi internal Iran.
08:23Iran ini dalam krisis, krisis ekonomi, bahkan krisis politiknya.
08:28Jadi potensi terjadinya protes besar di Iran itu sangat besar.
08:33Dan bisa terjadi kapan saja.
08:35Karena militer ini yang kontrol dalam negeri atau situasi Iran,
08:41banyak tidak berani untuk turun jalan.
08:44Nah yang ketiga ini, memperkuat legitimasi itu mistiknya Iran.
08:49Bahwa narasi Iran sedang menghadapi ancaman global.
08:54Untuk membuat atau memperkuat solidaritas masyarakatnya di dalam negeri.
08:59Bahwa ada tiga menurut saya, tiga skenario yang Iran sedang melakukan itu.
09:04Jadi istilah tersebut atau istilah perang dunia ketiga,
09:07bukan sekedar ungkapan emosional saja, tetapi juga atau melainkan bagian dari strategi komunikasi politiknya Iran.
09:17Jadi menurut saya tidak, saya ulangi lagi, sampai saat ini tidak ada,
09:22bahkan menurut banyak analis, tidak ada potensi perang tiga ini sangat kecil,
09:28tetapi bisa perang ini meluas di Timur Tengah.
09:32Kita lihat yang sebelumnya terjadi nih, hanya di Teluk saja, sekarang sudah sampai ke Yemen,
09:40dan juga Iraq, apa namanya, proksi-proksi nih, Iran mulai merespon terhadap suku dunia Iran di kawasan.
09:49Jadi potensi untuk meluas atau lebih besar ekspansi di kawasan sangat tinggi
09:55daripada terjadi nih atau mulai nih ya perang dunia ketiga.
09:59Oke, jadi Iran mengecam ultimatum Trump berpotensi perang dunia ketiga ini adalah bagian strategi juga dari Iran.
10:06Justru potensinya adalah perang yang semakin meluas ke Iraq, kemudian juga beberapa negara-negara Teluk.
10:13Nah kalau dari kacamata Pak Hasibullah ini seperti apa?
10:16untuk bisa dikatakan ya memang perangnya semakin meluas, lalu bagaimana nasib kesepakatan perdamaian,
10:24apakah keduanya ini hanya angan-angan atau seperti apa untuk mencapai kata sepakat?
10:31Kalau menurut Pak Hasibullah, dalam kondisi saat ini ya?
10:35Ya, yang pertama begini, soal istilah dan kebijakan saya yakin baik Amerika maupun Iran,
10:41itu melakukannya sesuai dengan kontek kepentingan nasional dan juga kontek kepentingan global.
10:46Itu sudah pasti rumus gitu.
10:48Termasuk ketika Amerika menggunakan istilah ini akan lebih besar daripada perang dunia kedua,
10:53lalu dibalas dengan istilah yang juga tidak kalah besar dari Iran,
10:57itu istilahnya pernyataan, istilah-istilah yang digunakan oleh kedua belah pihak untuk kepentingan masing-masing.
11:03Tapi mari kita lepaskan istilah-istilah itu.
11:05Kita masuk kepada fakta empiris yang ada di lapangan.
11:09Yang pertama, kalau kita ingin membaca sejauh mana perang ini akan menjadi lebih besar,
11:14katakanlah kalau di Timur Tengah, itu selalu sampaikan bahwa kita hanya butuh,
11:18misalkan negara-negara Arab teluk turut membalas serangan-serangan Iran.
11:22Itu akan melipat gandakan perang ini.
11:25Dan Arab Saudi sudah memulai aksi itu dengan menyerang Houthi dan katakanlah milisi di Irak.
11:32Walaupun masih sangat terbatas.
11:34Tapi sekali lagi, fajar eskalasinya sudah sangat kuat.
11:38Yang kedua, kalau berkaitan dengan Hormuz,
11:41memang sekarang yang menurut saya juga diuji oleh Amerika adalah sejauh mana NATO mau terlibat
11:47di dalam terutama upaya untuk pembebasan Hormuz.
11:51Mengingat, satu, kalau saya secara kategori mencatat perang di bab kedua ini,
11:58jelas itu diumumkan oleh Trump ketika Trump berada di samping dan di forum NATO di Turki.
12:03Itu ketika dia mengatakan bahwa perjanjian dengan Iran selesai.
12:08Kurang lebih di tanggal 10.
12:10Karena itu saya memasukkan perang ini di bab kedua.
12:13Dan itu di dalam forum NATO yang secara tidak langsung,
12:16NATO juga mendukung upaya Amerika untuk membalisir Hormuz.
12:20Jadi kalau ditanya bagaimana eskalasinya ke depan, itu memang tergantung juga NATO.
12:25Kalau NATO masuk karena alasan katakanlah ini Hormuz yang makin ketat dikuasai oleh Iran
12:31lalu membuat krisis di Eropa, ancaman krisis minyak dan energi,
12:34maka menurut saya potensi eskalasinya itu bisa lebih besar.
12:39Dan yang ketiga, itu yang tidak kalah berbahaya,
12:43bagaimana Ukraina itu kemudian menyerang kapalnya Iran di pantai Kaspia itu.
12:52Atau di laut Kaspia itu.
12:53Dan sekali lagi, itu pintu menurut saya, itu dinding yang tipis.
12:56Kalau Iran membalas juga dengan serangan itu,
13:00maka bisa terjadi kayak semacam perleburan dua medan konflik ini,
13:05yaitu medan konflik di Timur Tengah yang dipelopori oleh Amerika dengan Iran,
13:09dengan medan konflik di Ukraina yang dipelopori oleh katakanlah Rusia
13:13dengan Ukraina dan negara-negara Eropa.
13:16Nah, kalau kemudian itu terjadi,
13:19maka bukan tidak mungkin pola hubungan di antara para pihak yang sebenarnya terbentuk,
13:24hanya tinggal diformilkan.
13:26Jadi istilahnya selama ini kerjasama de facto sudah terjadi.
13:32bagaimana Iran juga suplai Rusia dalam perang Ukraina,
13:35itu juga sudah terjadi.
13:37Cuma sekali lagi, ini belum deklarasi,
13:39belum diangkat menjadi sebuah dejure,
13:42belum diangkat menjadi sebuah fakta yang diakui.
13:46Kalau tidak diakui, menurut saya selama ini,
13:49di antara aktor-aktor perang ini adalah saling terkait satu sama lain.
13:52Minimalnya di antara Iran, lalu kemudian Rusia,
13:55lalu kemudian Ukraina, Amerika sudah pasti,
13:58dan negara-negara Eropa.
13:59Dan kalau kemudian meletus seperti ini,
14:02maka itulah mungkin orang-orang Iran menganggap sebagai perang dunia ketiga.
14:08Istilahnya bisa beda-beda.
14:09Tapi sekali lagi,
14:11eskalasi ini akan jauh lebih besar daripada perang yang terjadi 40 hari,
14:16yang simpatnya lebih total.
14:18Kalau sekarang saya malah mengatakan ini perangnya jauh lebih kecil daripada 40 hari,
14:22bahkan yang terjadi di perang kedua ini saya sebut sebagai perang bertempo.
14:27Karena eskalasinya dia khusus di jam-jam tertentu.
14:30Bahkan sampai hari ini.
14:32Nah, yang tidak kalah menarik untuk kemudian kita pahami adalah
14:37yang saya sebut sebagai perubahan strategi Iran.
14:40Kalau Iran awalnya konsisten sifatnya adalah defensif,
14:44maka sebenarnya kalau kita amatin,
14:46Iran peran-peran sudah mengubah posisinya dari defensif kepada ofensif.
14:51Dan itu bisa dirujuk peristiwa terbarunya adalah
14:55serangan Iran ke Jordania, pangkalan amiliter, pada tanggal 28 Juli.
15:00Itu dua kali Iran melakukan sebuah serangan yang kita sebut sebagai serangan yang ofensif.
15:05Yang pertama 8 Juni,
15:06yaitu ketika dia menyerang Israel sebagai penyelitian makin masuk di Libanon.
15:10Dan yang kedua adalah 28 Juli kemarin ketika Trump ketemu dengan Netanyahu di Washington.
15:17Lalu kemudian Iran justru menyerang pangkalan Amerika di Jordania.
15:21Oke, dari perspektif Anda ada perubahan pola yang dilakukan oleh Iran dari defensif menjadi ofensif.
15:28Yang menjadi alasan mengapa ada perubahan itu dari defensif menjadi ofensif.
15:32Sebenarnya alasan utamanya apa?
15:33Pertimbangan utamanya kalau menurut perspektif Anda?
15:37Yang pertama, seperti tadi disampaikan oleh Mas Ayub juga,
15:41ini mungkin Iran juga sebagai sebuah strategi menggertak.
15:45Ini kan sebenarnya tidak bisa kita lepaskan.
15:47Dua belakang juga saling menggertak, saling membaca.
15:50Mana kelemahan-kelemahan orang.
15:52Nah mungkin kalau Iran mengambil kebijakan itu,
15:54satu sebagai gertakan kepada Amerika yang dia juga baca bahwa banyak info Amerika juga mengalami krisis.
16:01Kalau di Iran krisis tadi disampaikan, di Amerika juga ada krisis.
16:04Bahkan yang terbaru, desas-desus di Washington Post itu tentang bagaimana diantara Trump dengan Menteri Perangnya
16:11yang berkaitan dengan kurang akuratnya analisis-analisis yang ada.
16:16Tapi sekali lagi di jaman perang itu kadang-kadang mana yang benar, mana yang tidak benar itu sengaja untuk didorong
16:22bareng.
16:23Tapi kalau kita lepas daripada itu,
16:25maka paling tidak kalau dari sisi Iran adalah kenyataannya Amerika lewat dua cara sampai sekarang 160 tidak berhasil mencapai apapun
16:35yang dimau.
16:36Baik lewat perang, 40 hari tambah 13 hari, ataupun perundingan yang itu dilakukan sampai sekarang.
16:42Itu adalah fakta lapangan yang kemudian membuat Iran menggunakan ini sebagai modal untuk mendapatkan kemenangan lebih besar.
16:50Oke, saya ingin bertanya juga berarti ke Pak Ayu.
16:53Pak Ayu, apakah Anda sepaham dengan yang dikatakan oleh Pak Hasimullah?
16:57Ada perubahan pola dari Iran, dari defensif menjadi ofensif.
17:02Nah, dengan adanya perubahan pola yang dilakukan oleh Teheran ini,
17:06tentu ini semakin memanaskan Iran dan juga Amerika Serikat.
17:10Itu artinya kecil kemungkinan ada kesepakatan damai yang akan terjadi dalam waktu dekat?
17:18Saya ada tiga poin.
17:20Yang pertama, kenapa Iran bisa dari defensif menjadi ofensif?
17:26Karena menurut saya terjadinya salah strategi atau salah kalkulasi dari pihak Amerika Serikat,
17:32termasuk Israel ketika mulai perang ini pada tanggal 28 Februari.
17:38Kenapa salah kalkulasi?
17:40Karena mereka berpikir bahwa kalau membunuh pemimpin tertinggi dan pemimpin-pemimpin menteri pertahanan dan lain-lain yang tidak ada di
17:50Iran,
17:50rezim ini akan kolaps, Iran akan menyerah dan selesai perang ini.
17:54Tapi pada kenyataannya?
17:56Tetapi, Iran kembali semakin keras, Iran kembali membalas semakin serangannya semakin meningkat,
18:03dan yang kedua, kita tidak bisa bandingkan kekuatan Iran secara militer maupun ekonomi dengan Amerika Serikat.
18:12Jauh berbeda.
18:14Amerika Serikat itu sangat kuat.
18:16Tetapi ketika kita lihat selama sejak 28 Februari sampai sekarang,
18:22apa sebenarnya pencapaian dari Amerika Serikat?
18:25Nol, tidak ada.
18:26Bahkan Selat Hormuz masih dibawa kontrol Iran.
18:29Amerika belum mampu untuk bisa kontrol Selat Hormuz.
18:33Dan itu kita selalu bisa dengar dalam sambutan-sambutan atau press conference dari pihak Amerika Serikat termasuk Donald Trump.
18:41Nah, di sini menurut saya Iran tambah berani.
18:45Karena Iran melihat, walaupun dengan kekuatan militer yang dia punya,
18:50kalau saya katakan kecil dibandingkan dengan Amerika Serikat,
18:54tetapi dengan proksi-proksi yang ada di kawasan ini,
18:58Iran masih bertahan, Iran masih membalas, Iran masih bisa membela dirinya,
19:04dan di sini dia masih tetap bertahan, tetap resilient.
19:08Jadi Iran sekarang daripada defensif, merubah strategi menjadi ofensif.
19:15Karena proksi-proksinya juga mulai semakin berani juga.
19:19Nah, lihat kita milisi yang ada di Irak, Houthi di Yemen, termasuk di Lebanon, ke Hezbollah,
19:27sampai akhir awal, akhir bulan kemarin juga bertahan melawan Israel.
19:32Ya, menurut saya ya, itu penyebabnya kenapa Iran berubah strategi menjadi ofensif.
19:38Oke, saya terakhir ke Pak Hasibullah.
19:39Pak Hasibullah melihat kondisi yang dua-duanya masih panas,
19:43kecil kemungkinan adanya kesepakatan antara Amerika Serikat dan juga Iran terjadi dalam waktu dekat.
19:48Singkat saja sebelum Anda mengakhiri dialog ini.
19:51Saya rasa memang kemungkinannya masih pada dua,
19:54dengan eskalasi masih jauh lebih besar daripada perdamaian.
19:58Karena tadi situasi-situasi di lapangan yang belum bisa dipastikan,
20:01dan mereka belum mau mengalah.
20:04Bahkan Iran juga tidak mau mengalah.
20:06Dia tidak mau satu kecil pun, satu peluang pun digunakan oleh Amerika untuk kemenangannya.
20:12Saya rasa itu, Mbak Adisti.
20:14Oke, baik. Terima kasih pengamat timur tengah, Bung Hasibullah Satrawi,
20:17sudah bergabung bersama kami.
20:19Nanti kita akan lanjutkan bersama dengan dosen Departemen Hubungan Internasional
20:23dari Universitas Erlangga, M. Ayub Mirdad.
20:25Terima kasih, Bung Hasibullah.
20:26Melanjutkan perbincangan kita, Pak Ayub.
20:29Nah, kalau tadi dikatakan oleh Pak Hasibullah,
20:31kecil kemungkinan adanya kesepakatan damai yang akan terjadi ketika sama-sama panas
20:36antara Amerika Serikat dan juga Iran.
20:38Nah, benarkah ada peran dari Oman yang cukup signifikan dalam upaya,
20:44dalam tanda kutip ya, untuk bisa memanage Selat Hormuz ini,
20:49kalau dari perspektif Anda?
20:52Kenapa kecil kemungkinan?
20:54Menurut saya, kita melihat akar masalahnya.
20:58Akar masalah di antara Amerika Serikat dan Iran adalah kurangnya atau trust deficit
21:05atau kurangnya kepercayaan antara dua negara tersebut ini.
21:09Tapi apakah itu artinya tidak akan berhasil diplomasi?
21:15Menurut saya tidak.
21:16Selama jalur atau pintu sekicil apapun buka komunikasi antara dua negara ini,
21:22akhirnya bisa, bisa mereka mencapai kesepakatan
21:28atau kalau tidak akhirnya perang akan berlangsung.
21:31Nah, yang kedua, apa yang masih berlangsung antara Iran dengan Oman
21:36yang kapal masuk dari sebagian utara dan keluar dari bagian selatan
21:42ini antara kesepakatan antara dua negara saja.
21:45Kita belum dengar respons dari negara-negara kawasan
21:48seperti Qatar, seperti Arab Saudi, seperti Uni Emirat Arab,
21:53dan negara-negara lain termasuk dari Amerika Serikat sendiri.
21:58Apakah mereka setuju dengan negosiasi yang berlangsung di antara dua negara tersebut?
22:04Karena saya melihat Oman ini salah satu negara di kawasan Tuluk
22:08yang cukup dekat dengan Iran.
22:10Dan salah satu negara yang dia mencapai selamat ketika
22:15Mujtabah Khomeini menghantikan ayahnya.
22:18Walaupun itu dalam perang, dalam kondisi perang,
22:22dia mencapai Raja Nia, Sultan Nia Uman menyampaikan itu.
22:27Artinya mereka dua negara ini dari belakang sudah,
22:31dari jalur belakang atau in backstage hubungan mereka cukup baik,
22:35bahkan di depan, di tatap muka atau di depan media juga.
22:39Jadi, kalau kesepakatan ini terjadi dan mereka setuju,
22:43oke kapal keluar, saya ambil service charge-nya dan keluar masuk dari utara dan keluar dari selatan,
22:51kamu ambil menurut saya ini juga melanggar hukum laut internasional.
22:55Karena kita ada international air waters dan tidak boleh negara-negara manapun untuk membuat tarif dan minta uang
23:05atau service charge atau tarif charge dari kapal komersial manapun.
23:10Tapi kalau misalnya ini terjadi, menurut saya pasti kita akan melihat respons dari negara-negara tersebut,
23:17bahkan khususnya dari Amerika Serikat.
23:19Tetapi, kalau kesepakat ini membuat akhirnya Amerika Serikat dan Iran duduk di meja perundingan kembali
23:27dan mulai diplomasi lagi dan akhirnya mereka bersepakat atas poin-poin yang sampai sekarang ini belum berhasil,
23:36bisa juga ini salah satu pintu untuk membuka mereka kembali duduk di meja perundingan.
23:41Tapi, saya rasa kita harus wait and see, kita melihat apa hasil dari negosiasi antara Iran dan Uman.
23:49Karena sampai saat ini belum ada secara resmi hasil negosiasi di antara dua negara atau kesepakatan di antara dua negara
23:58tersebut.
23:59Oke, kita akan lihat bagaimana nanti kelanjutannya, termasuk juga mediasi yang nantinya akan dilakukan,
24:06baik itu dari Uman atau negara lainnya.
24:08Terima kasih dosen Departemen Hubungan Internasional dari Universitas Erlangga, M. Ayub Mirda,
24:13telah bergabung bersama kami.
24:14Sebelumnya juga sudah hadir pengamat Timur Tengah, Hasibullah Satrawi.
24:19Terima kasih, Assalamualaikum, selamat pagi.
Komentar

Dianjurkan