Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Harapan penurunan harga energi setelah tercapainya kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat dinilai belum bisa dirasakan secara instan oleh masyarakat Indonesia.

Mantan Duta Besar RI untuk Iran periode 2012-2016, Dian Wirengjurit, bahkan menilai kesepakatan yang ada saat ini belum bisa disebut sebagai perjanjian damai.

Menurut Dian, saat ini fokus utama dari kesepakatan tersebut adalah penghentian perang, pembukaan Selat Hormuz oleh Iran, serta pencabutan blokade oleh Amerika Serikat.

"Untuk mulai melaksanakan perjanjian ini cuma tiga hal yang dibutuhkan saat ini. Yaitu pengertian perang. Kedua, pembukaan Selat Hormuz oleh Iran. Ketiga, penarikan Blokade oleh Amerika," ujarnya.

Namun, pelaksanaan tiga poin tersebut tidak bisa dilakukan secara instan.

Sementara itu, Ekonom INDEF Abra Talattov mengatakan pemerintah sebenarnya telah melakukan penyesuaian dengan mencari sumber pasokan minyak alternatif ketika terjadi gangguan dari kawasan Timur Tengah.

Menurutnya, apabila Selat Hormuz kembali normal, peluang memperoleh pasokan minyak dengan harga lebih murah akan semakin terbuka. Namun, hal itu belum otomatis membuat harga BBM langsung turun.

Ia menjelaskan, sejumlah badan usaha, termasuk BUMN, masih menanggung sebagian biaya agar harga BBM non-subsidi tidak sepenuhnya mengikuti harga keekonomian.

Bagaimana menurut Anda?

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/rakE3PUjcR8


#perang #iran #indonesia

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/676911/damai-iran-as-belum-tentu-bikin-harga-bbm-turun-indef-ungkap-alasannya-satu-meja
Transkrip
00:00Jadi Iran kembali akan memainkan Hormuz, makanya kan tutup buka begitu ya.
00:03Sampai ada Mimba Sindi, nanti Sabtu Minggu Hormuz buka begitu ya,
00:07Senin tutup lagi begitu kan.
00:08Mereka akan terus mengawasi perjanjian ini,
00:11dan tiba-tiba jika Lebanon itu diserang kembali, maka Hormuz akan ditutup.
00:19Masih di satu majadu forum, Dupest Dian, saya ingin melanjutkan lagi.
00:26Jadi, tadinya kita berpikir dengan kesepakatan nama ini akan ada perbaruan.
00:31Paling tidak Indonesia bisa menempatkan Iran menjadi salah satu partner negara untuk sumber minyak.
00:39Yang kita tahu bahwa lifting produksi kita kan tidak bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri.
00:44Sebulan itu dalam satu hari 1 juta barel kalau nggak salah kan kita impor gitu.
00:49Nah alternatif presiden pernah ke Rusia dan sebagainya mencari.
00:53Kali ini Iran gimana? Kan penting juga nih.
00:55Apakah masih bisa diperbaiki atau sudah terlanjur marah?
00:59Sanksi terhadap Iran belum dicabut.
01:03Karena ini masih dalam proses.
01:05Saya agak sedikit-pundur sedikit ya.
01:07Saya punya reservasi terhadap statement perjanjian damai.
01:13Buat saya ini bukan perjanjian damai.
01:15Ini baru memorandum of understanding.
01:19Kesepahaman mengenai pengaturan situasi di Timur Tengah.
01:23Kira-kira begitu.
01:24Yang kalau mau jujur, buat saya sebelum perjanjian ini ditandatangani,
01:30itu kan banyak beredar informasi bahwa banyak isu yang sudah disepakat di Amerika.
01:35Termasuk penarikan pasukan Amerika, termasuk pembayaran biaya rekonstruksi dan sebagainya.
01:45Buat saya belum sampai situ.
01:47Perjanjian ini kan kita bisa lihat sekarang.
01:50Untuk mulai melaksanakan perjanjian ini cuma tiga hal yang dibutuhkan saat ini.
01:55Yaitu pengetingan perang.
01:57Kedua, apa namanya, pembukaan Selat Hormus oleh Iran.
02:00Ketiga, penarikan blokade oleh Amerika.
02:04Jadi seimbang tuh Iran harus melakukan sesuatu, Amerika juga.
02:08Buat saya itu aja yang penting sekarang ini.
02:10Dan untuk melaksanakan tiga itu?
02:11Dan untuk melaksanakan tiga ini juga tidak semudah membalik tangan.
02:15Karena ada aturannya, ada prosedurnya, dan ada mekanisme dengan negara-negara tetangga di sana.
02:20Tidak bisa, kapal Saudi langsung nyelonong gitu kan gak bisa.
02:24Nah, apalagi ada kapal kita masih di sana.
02:28Karena yang tiga itu salah satunya adalah pembukaan Selat Hormus.
02:31Sementara di sisi lain, Indonesia berharap banyak bahwa Selat Hormus dibuka itu,
02:35seperti yang disampaikan oleh Bung Abra tadi,
02:37akan berdampak dan publik akan melihat,
02:39oke, akan ada penurunan harga yang selama ini dirasakan menjadi salah satu beban.
02:43Bisa juga menjadi penurunan inflasi.
02:45Kalau begitu, kira-kira alternatif apa?
02:47Supaya Indonesia gak terlalu berharap betul dengan situasi ini.
02:50Karena ternyata gak semudah yang dibayangkan, Bung Abra.
02:52Ya, sebetulnya pemerintah kan sudah mencoba melakukan adjustment ya,
02:57ketika ada gangguan pasokan, kita kurang lebih ada sekitar 19%
03:02sumber minyak mentah kita dari kawasan Timur Tengah,
03:05kemudian mencari alternatif lain,
03:07salah satunya dari Amerika Serikat,
03:10dan kemudian pemerintah,
03:11dan juga Rusia.
03:12Saya pikir ketika Selat Hormus dibuka,
03:14artinya alternatif kita mendapatkan pasokan,
03:16dengan harga yang lebih murah, itu lebih terbuka lebar,
03:19ya otomatis nanti tentu dia produksi BBM tadi semakin murah,
03:23otomatis masyarakat pasti ekspektasinya adalah agar harga BBM,
03:27entah yang non-subsidi, bahkan yang subsidi sekalipun,
03:29itu diturunkan.
03:31Tapi ternyata tidak semudah itu.
03:34Masyarakat masih harus menunggu nih.
03:35Betul, karena dalam hal misalnya saya berikan contoh,
03:38untuk harga BBM non-subsidi,
03:40yang sudah dinaikkan oleh badan usaha seluruhnya,
03:43termasuk swasta,
03:44itu pun ternyata ada beberapa produk,
03:46yang memang harga jualnya itu masih dibuat harga ekonomian.
03:49Artinya masih sebagian ditanggung oleh badan usaha,
03:52khususnya plat merah.
03:53Artinya ketika harga minyak mentah itu turun,
03:56belum otomatis serta-merta,
03:57ya harga jual akan turun.
03:59Kecuali memang,
04:00plat merah tadi memang,
04:02akan melanjutkan opsi untuk nombok.
04:05Ya ini kan seperti yang terjadi dengan Pertamina kan,
04:08kenapa dia sampai menaikkan harga pertama,
04:10karena pertanyaannya sampai kapan mau nombok terus gitu.
04:12Ya betul,
04:13jadi ya saya pikir nanti ini akan menjadi pilihan yang dilematis,
04:17ya buat badan usaha,
04:19apakah memang akan segera mungkin menurunkan harga BBM,
04:22non-subsidi,
04:23atau memang kalaupun turun,
04:25turunnya mungkin tidak terlalu ekstrim ke level yang sebelum ada kenaikan,
04:29kan di level 12.300 rupiah.
04:32Karena naiknya kemarin itu kan cukup,
04:33naiknya tinggi 32 persen.
04:35Tinggi kan, 32 persen.
04:36Karena kalau mau turun ya berhenti di.
04:38Ini sudah menjadi isu politik ya,
04:40karena ini baru pertama kalinya,
04:42harga komunitas non-subsidi,
04:44dijadikan bagian tuntutan.
04:46Dari demonstrasi yang sebelum-sebelumnya itu kan,
04:48biasanya harga.
04:49Kondisi itu karena situasinya adalah kelas menengah sudah mulai digrogoti
04:54dan hampir menulis.
04:54Betul, karena pada akhirnya kelas menengah ini yang selama ini mungkin
04:59masa tidak terlalu terpukul ketika ada kondisi perang ini,
05:04merasakan adanya inflasi dari sektor pangan dan juga inflasi di sektor energi.
05:08Kalau dari sisi indep ada alternatif lain nggak?
05:12Supaya satu jangan terlalu tergantung,
05:13ternyata kesepakatan damai itu bukan sesuatu yang bisa langsung dirasakan,
05:17ternyata kalikunya masih panjang.
05:19Dua sisi tentunya, dari sisi domestiknya kita harus meningkatkan lifting bigas,
05:24karena ini juga masih menjadi PR kita,
05:26meningkatkan produksi supaya mengurangi ketergantung impor.
05:28Kedua juga mendiversifikasi,
05:30sekarang kan pemerintah sedang mendorong adanya upaya
05:33bauran energi ya,
05:34sehingga tidak sepenuhnya dari impor minyak mentah.
05:37Misalkan dengan biofuel,
05:38targetnya Juli nanti adalah B50.
05:40Itu juga menjadi bagian strategi untuk mengurangi ketergantungan impor.
05:43Yang kedua,
05:44saya pikir ini saya membaca salah satu poin yang di,
05:47jadikan bahan kesepakatan antara Amerika dan Iran adalah,
05:50mengizinkan Iran untuk melanjutkan ekspor minyaknya.
05:54Nah itu juga mungkin menjadi diskusi menarik,
05:56apakah Indonesia akan mempertimbangkan,
06:00untuk memperkuat kerjasama dengan Iran,
06:03salah satunya adalah bergeningnya dengan kita,
06:04melakukan importasi minyak mentah dari Iran.
06:07Nah itu silahkan tadi.
06:10Silahkan, silahkan.
06:10Sedikit saja.
06:11Boleh, boleh.
06:11Dibutir ini,
06:13jangan kan punya masalah politik ya,
06:15masalah teknis saja.
06:17Ketika perjanjian ini dibicarakan,
06:19kecenderungan minyak mulai turun.
06:21Tapi ketika ini di tanda tangan ini,
06:23pasti turun.
06:25Tapi untuk mendatangkan minyak dengan harga sekarang ini,
06:28ke Indonesia,
06:29butuh waktu.
06:30Berarti yang ada sekarang ini,
06:33masih harga yang kita beli waktu mahal.
06:35Waktu mahal.
06:36Jadi artinya untuk menurunkan itu kan,
06:38ada waktu membawa minyak itu kan,
06:39tidak dari Tanjung Perio ke sini gitu kan.
06:44Perhari-hari.
06:46Saya cuma mau bilang satu lagi,
06:48ketika kita menghadapi masalah-masalah seperti ini,
06:52boleh cerita sedikit,
06:53bahwa di masa lalu,
06:56kita itu tidak pernah serius,
06:58ketika berbicara tentang ketahanan energi.
07:01Nanti saya akan elaborasi juga di segmen,
07:04tapi kita masih fokus soal,
07:07ketika Iran,
07:08ada cerita itu,
07:09ada dampak,
07:10terus kemudian ada faktor Amerika,
07:12Profik melihatnya seperti apa.
07:15Bisa gak sih semudah itu,
07:16atau memang,
07:17bagaimanapun selama Indonesia,
07:19masih dalam kebutuhan politik internasionalnya,
07:21dengan Amerika masih dominan,
07:23ya mau elaborasi dengan Iran,
07:26pasti susah.
07:27Gini,
07:27saya ini kan latar belakang saya hukum nih,
07:30jadi kalau orang hukum itu,
07:32bicara katanya,
07:33kalau gak punya evidence-nya,
07:35buktinya agak repot gitu ya.
07:37Jadi,
07:38waktu ada kesepakatan MOU,
07:40antara Amerika Serikat dengan Iran,
07:43saya coba Google di internet,
07:45apa sih kesepakatan itu,
07:47dan saya dapatkan,
07:48itu isinya 14 poin,
07:50tapi saya harus disclaimer ya,
07:53mungkin aja ini bukan yang ditanda tangani.
07:55Oke,
07:55bukan yang otentik,
07:56tapi yang hasil temuan,
07:58hasil temuan,
07:58riset mandiri dari Profik.
07:59Riset mandiri,
08:00yang sudah dipublish di sebuah koran,
08:03korannya dari Israel lagi.
08:05Nah,
08:06di dalam poin 10,
08:08dikatakan disitu,
08:09bahwa,
08:09the United States undertakes,
08:12the United States undertakes,
08:15that immediately after the signing of this MOU,
08:18and until the date of the lifting of sanctions,
08:22the United States Treasury Department will issue wavers,
08:25for export of Iranian crude oil,
08:28petrochemical dan seterusnya.
08:30Jadi,
08:31itu kata-katanya immediately.
08:32Immediately.
08:33Jadi,
08:33itu harus segera.
08:34Memang,
08:35kemarin itu,
08:36ada perkembangan,
08:37ada kapal Iran,
08:38yang keluar,
08:39dan itu tidak diapak-apakan oleh,
08:41blokade yang,
08:42blokade Amerika.
08:43Amerika Serikat.
08:45Artinya,
08:46kalau misalnya,
08:48dilihat dari MOU itu,
08:49memang ada,
08:50yang immediately,
08:52segera,
08:52ada yang,
08:54sifatnya,
08:55memang on progress,
08:56dari 60 hari ini,
08:58dinegosiasikan.
09:00memang kalau di pasal satunya,
09:02soal,
09:03pokoknya kita sudah tidak saling serang ya,
09:06dan juga termasuk di Lebanon,
09:08itu kan,
09:09itu harusnya sudah selesai.
09:10Tapi memang,
09:11yang jadi permasalahan ini sekarang,
09:13Israel masih menyerang Lebanon.
09:15Lebanon.
09:16Nah,
09:16kemarin ini,
09:16setelah ada penanda tanganan secara elektronik gitu ya.
09:20Dan Benjamin Netanyahu masih meresponnya tidak serius.
09:24Ya,
09:24tidak serius dan mengatakan bahwa,
09:26Amerika.
09:26Iya,
09:27mengatakan bahwa,
09:28oke,
09:28kalau misalnya,
09:28tidak ada serangan,
09:30tapi,
09:31kita di Lebanon Selatan sudah kuasa ini,
09:33sudah milik kita.
09:35Nah,
09:35sebenarnya Iran maunya tidak ada serangan,
09:37terutama ke Hezbollah,
09:39dan,
09:40Israel harus keluar,
09:41dari Lebanon Selatan.
09:42Nah,
09:43ini kan,
09:44apa namanya,
09:45yang tadi yang saya katakan,
09:47ada yang immediately,
09:48tapi kok,
09:48tidak sesuai,
09:50dengan yang immediately,
09:51yang memang.
09:52ada satu lagi,
09:53prop Israel,
09:54tegas menyampaikan bahwa,
09:56kami tidak ikut dalam kesepakatan damai.
09:58Betul,
09:59itu yang tadi saya katakan di awal,
10:01bahwa,
10:01dia kan punya kedaulatan.
10:02Yes.
10:03Amerika Serikat,
10:04mau dia ngomong apa,
10:06Netanyahu sekarang dalam posisi,
10:07oke,
10:08sekarang,
10:09kita punya perbedaan pandangan nih,
10:12terkait dengan Iran.
10:13Kalau kemarin,
10:14kita sama,
10:15tapi kalau sekarang,
10:16tidak.
10:17Di situ,
10:18kalau saya hitung,
10:19mungkin ada dua,
10:20tiga kali,
10:21Trump itu marah.
10:21sama Israel.
10:23Bahkan yang terakhir,
10:24beliau mengatakan bahwa,
10:25tanpa kami,
10:27sebenarnya Israel sudah tidak ada lagi.
10:29Meskipun agak,
10:31sulit dipercaya,
10:32Amerika bisa marah serius gitu,
10:34sama Israel gitu.
10:35Melihat artinya,
10:36itu kan agak sulit.
10:37Khawatirnya ini gimmick dan sebagainya.
10:39Tapi itulah,
10:39itu wilayahnya Amerika.
10:40Yang ingin kita tegaskan di sini adalah,
10:43karena kita bicara ini angin segar,
10:45apakah ini bisa,
10:46khususnya hubungan diplomatik dengan Iran,
10:48apakah bisa diperbaiki,
10:49dan kemudian bisa berdampak,
10:52paling tidak ada alternatif sumber.
10:55Yang pasti satu Mas Yogi,
10:56sekarang ini pemerintah,
10:58tidak bisa lagi,
11:00menyalahkan perekonomian sedang lesu itu,
11:02karena masalah geopolitik.
11:04Oke,
11:04itu salah satu.
11:05Tidak ada lagi alasan itu.
11:06Itu dari kenapa saya tanya.
11:07Dan yang diharapkan oleh masyarakat,
11:08kemarin yang naik,
11:09itu harus segera turun.
11:11Memang ada waktu ya,
11:13penyesuaian dan lain sebagainya,
11:14tapi harus turun.
11:15Dan yang ketiga adalah,
11:17yang tadinya investor,
11:18keluar mungkin dia mau wait and see,
11:21ya harusnya sekarang,
11:23kita kalau katakanlah fundamental ekonomi sudah bagus,
11:26harusnya bisa masuk dong.
11:28Tapi kan isunya adalah,
11:29apakah masalah fundamental ekonomi Indonesia yang bagus,
11:32atau kepercayaan,
11:34trust dari para investor ini.
11:36Jangan-jangan lebih ke masalah kepercayaan investor,
11:40bukan masalah fundamental ekonomi.
11:42Karena kalau dalam pemahaman saya,
11:44fundamental ekonomi bagus,
11:46geopolitik sudah meredah,
11:49harusnya ya BBM akan turun,
11:52segala sesuatu akan...
11:53Bung Abra masih yakin harga BBM,
11:55atau punya rekomendasi bahwa,
11:56kalau kesempatan damai ini berjalan dengan baik,
11:59ya otomatis harus segera turun,
12:00karena harga minyaknya pasti akan turun,
12:03mendekati asumsi APBN.
Komentar

Dianjurkan