Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Pemangkasan anggaran Transfer ke Daerah atau TKD menjadi salah satu isu yang kembali mengemuka di tengah hubungan pemerintah pusat dan daerah.

Wakil Ketua Komisi II DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Bahtra Banong, menilai pemerintah tetap merespons berbagai aspirasi yang datang dari daerah.

Bahtra juga menyinggung kebijakan pemerintah terkait dana transfer untuk sejumlah daerah di Sumatera.

Menurut Bahtra, pemerintah juga telah memberikan sejumlah relaksasi atas persoalan fiskal yang dihadapi pemerintah daerah.

Salah satunya terkait pembiayaan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja atau PPPK.

Bahtra menyebut pemerintah merespons aspirasi daerah terkait kemampuan fiskal untuk membiayai pegawai.

Namun, persoalan pemangkasan TKD juga dinilai tidak bisa dilepaskan dari kondisi fiskal masing-masing daerah.

Pakar Otonomi Daerah, Prof. Djohermansyah Djohan, menyoroti adanya perbedaan kemampuan fiskal antara satu daerah dengan daerah lainnya.

Menurutnya, kebijakan terkait anggaran daerah tidak semestinya diberlakukan secara seragam.

"Nah mungkin yang jadi persoalan adalah kebijakannya jangan seragam orang melihat bahwa insiden itu tidak bisa dipandang sebelah mata tetapi harus menjadi sinyal betul, ya itu adalah alarm lah ya," ungkapnya.



Djohermansyah juga menyoroti ketergantungan banyak daerah terhadap dana transfer dari pemerintah pusat.

Ketum APKASI periode 2025-2030 sekaligus Bupati Lahat, Bursah Zarnubi, mengatakan persoalan TKD menjadi perhatian para kepala daerah.

Bursah menilai pemangkasan TKD menjadi hal yang mengejutkan karena kebijakan tersebut dinilai berbeda dari kondisi selama bertahun-tahun sebelumnya.



Bagaimana menurut Anda? Tuliskan di kolom komentar.

Selengkapnya saksikan di sini:

https://youtu.be/8UgdIaAw_X4




#efisiensi #anggaran #mbg





Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/686460/daerah-tertekan-imbas-anggaran-tkd-dipangkas-pakar-ini-alarm-bagi-pemerintah-satu-meja
Transkrip
00:00Selamat malam, pemangkasan dana pusat daerah atau transfer ke daerah TKD
00:05yang dimulai sejak awal tahun 2025 berlanjut hingga 2026 masih menuai pro-kontra.
00:12Transfer pusat ke daerah sangat terkait dengan stabilitas ekonomi daerah dan integrasi nasional secara luas.
00:19Anggaran ditahan sampai kapan Pemda bertahan.
00:23Inilah satu meja deforum malam ini bersama saya, Yogi Nugraha.
00:26Sudah hadir di Studio Kompas TV malam ini, Bahtra Banong, Wakil Ketua Komisi 2 DPR RI dari Fraksi Gerindra.
00:34Apa kabar, Bu Bahtra?
00:35Baik.
00:37Ada juga Pakar Otomi Daerah, Prof. Johir Mansa Johan, Prof.
00:41Malam, Mas.
00:41Saya selalu malam, Prof.
00:44Hadir juga jauh-jauh dari Lahat, Bursa Zarnubi, Ketua Umum Apkasi Asosiasi Pemerintah Kabupaten seluruh Indonesia
00:51periode 2025-2030 yang juga menjabat sebagai Bupati Lahat.
00:56Pak Bupati, terima kasih sudah jauh-jauh datang.
00:59Terima kasih.
01:00Ya, terima kasih.
01:02Saya ke Bahtra.
01:06Bung Bahtra di perayaan 17 Agustus ulang tahun kemerdekaan ke-81,
01:12ada insiden di wilayah timur dan barat.
01:15Di Aceh, itu ada insiden, ya riak-riak insiden yang sampai menurunkan benar merah putih.
01:22Kemudian di Papua juga ada mengancam untuk tidak, keluarga tidak merayakan hari kemerdekaan.
01:29Sebagai pimpinan Komisi 2, Anda melihat situasi ini seperti apa?
01:34Sebagai pengawali diskusi kita, karena ini ada kaitannya dengan hubungan pusat dan daerah.
01:39Ya, saya pikir kalau berkenaan dengan kejadian yang baru-baru ini kita lihat, ya.
01:45Bahwa ada bentuk protes-protes dan saya pikir pemerintah juga selalu menerima aspirasi yang disampaikan oleh publik,
01:58baik itu sifatnya perorangan ataupun kelompok.
02:02Pak Prabowo selalu menyampaikan bahwa apapun yang menjadi masukan, apapun yang menjadi pandangan atau bahkan kritikan publik,
02:10tentu selalu kacamata pemerintah itu, itu dijadikan sebagai bahan mungkin dalam hal untuk mengambil kebijakan.
02:20Tetapi kalau kita bicara soal tadi ya dana transfer, karena kan kita tahu sendiri kemarin di Sumatera,
02:26termasuk Aceh yang terdampak dan semuanya kan full dikembalikan dana transfernya yang kategori yang selama ini kita anggap ada pemotongan
02:36dan semua Sumatera dibalikan ya, Aceh terus kemudian Sumatera Barat, begitu pun dengan Sumatera Utara.
02:44Artinya kalau saya pikir kejadian itu tentu tidak berpengaruh dengan soal itu karena semuanya dibalikan ke sana.
02:49Tetapi memang kan bahwa kemudian ada masukan-masukan, pandangan-pandangan, saya pikir itu sesuatu bagi kami ya,
02:58perlalu kami di Partai Gerindra, kami selalu melihatnya bahwa semua aspirasi yang disampaikan oleh publik,
03:05pasti pemerintah akan mendengar dan ya selayaknya pemerintah kan memang yang namanya orang tua mungkin ke anaknya,
03:13ke daerah-daerah tentu juga harus aspirasinya didengarkan.
03:17Kemudian kalau misalnya ada yang dianggap perlu dibenahi mungkin berbagai aspirasi itulah juga menjadi penyebab
03:25kemudian ada pembenahan-pembenahan, misalnya kita ambil contoh kasus ya.
03:28Kemarin pemerintah daerah termasuk mungkin Bank Bursa yang datang kepada kami di Komisi 2 menyampaikan
03:37bahwa ada sejumlah daerah yang punya kemampuan fiskalnya itu dianggap semacam tidak longgar lah.
03:46Kemudian untuk membiayai atau membayar P3K, gaji pegawai, dan alhamdulillah pemerintah langsung respon.
03:54Kemarin DPR bersama pemerintah, pimpinan DPR, Pak Dasko mengumumkan bersama Mensesnek,
04:01Kementerian Panerbe dan Kementerian Dalam Negeri bahwa berkaitan dengan P3K,
04:08paru waktu itu kemudian dinaikkan jadi penuh waktu,
04:11terus penuh waktu itu kita dorong agar dia punya peluang jadi ASN,
04:15terus kemudian khusus untuk tenaga pendidik yang itu guru,
04:19kemudian ditanggung oleh APBN, dan itu menjadi kewenangan pusat.
04:24Artinya kan pemerintah pusat selama ini merespon dengan baik apa yang menjadi usulan dari teman-teman daerah.
04:32Begitupun misalnya yang selama ini diaturan bahwa untuk menggaji pegawai itu kan aturannya kan diatur ya bahwa maksimal 30%.
04:41Tetapi pemerintah pusat juga memberi relaksasi, kelonggaran-kelonggaran,
04:45artinya kan apa yang menjadi aspirasi teman-teman di daerah,
04:48direspon dengan baik oleh pemerintahan Presiden Pramuk.
04:52Biasanya ke Prof. Jo, Prof. Jo, dari kacamata ilmu pemerintahan,
04:56pakar keindakan publik melihat di tengah situasi pro-kontra,
05:00soal pemangkasan dan naka daerah terjadi peristiwa di hari kemerdekaan di Aceh Dede Papua,
05:06Anda melihat seperti apa?
05:07Ya, insiden kecil itu ya di Papua ya seperti juga misalnya kasusnya tidak hanya soal melarang mengikuti upacara ya,
05:15tapi juga di Kabupaten Punca ada dana desa, karena di pangkas nih sampai 70% dan dana itu dibagikan kepada
05:24Kepala Kampung.
05:26Jadi Anda bilang hanya melarang upacara tapi juga ada reaksi atas?
05:30Ada, sehingga Kepala Kampung di sana ngamuk lah ya, dan membakar kontor-kontor pemerintahan di Kabupaten Punca.
05:38Itu juga bagian daripada akibat kena adanya pemotongan TKD.
05:44Karena TKD itu ada komponennya ada DAU, ada DAK, DBH, dan dana desa, dan dana otonomi khusus dan kistimewa.
05:52Jadi ini daerah kita kan sangat luas, sehingga beragam.
05:56Nah mungkin yang jadi persoalan adalah kebijakannya jangan seragam.
06:00Oke, orang melihat bahwa insiden itu tidak bisa dipandang sebelah mata, tetapi harus menjadi sinyal.
06:06Betul, ya itu adalah alarm lah ya, di dana kampung atau dana desa, kemudian ada soal yang terkait dengan TKD.
06:16Kalau daerah yang memang memiliki kemampuan fiskal bagus, nggak apa-apa.
06:19Tapi kalau di arah yang memang fiskalnya rendah, kan rata-rata PAD kita kan sangat rendah, daerah-daerah itu 90
06:28% itu sangat tergantung kepada dana TKD.
06:33Prof. Zul, selama ini melihat ada penyeragaman kebijakan terhadap daerah yang ada di Jakarta.
06:38Ya, itu dia, kebanyakan kebijakan itu dibuat di belakang meja di Jakarta ini.
06:41Ya, kebanyakan keuangan di belakang meja, ya, juga dagri sama saja.
06:45Sehingga dengan demikian tidak dieksersize secara detail dan rinci.
06:49Kabupaten Lahat misalnya harusnya dibuat sendiri.
06:52Lalu Kabupaten Bogor yang besar, kemudian ada Kabupaten Supriori di Papua yang kecil sekali.
06:59Itu harusnya berbeda-beda.
07:00Model penyesuaian kebijakan dengan daerah itu sempat pernah terjadi ya di era-era sebelumnya?
07:05Nah, itu dia.
07:06Belum pernah, kan?
07:06Belum, kosong itu.
07:08Jadi baru di era Bapak Pemerintah Presiden Prabowo lah dilakukan pemangkasan.
07:14TKD 2025 sebanyak 50T, 2026, 226T.
07:21Kita harapkan mungkin 2027 tidak dipangkas lagi ya, Bang?
07:242027 kan sudah dinaikkan dari 2026, kan?
07:26Tapi tetap.
07:275 persen, 38 miliar.
07:28Tapi kalau saya analisis ini.
07:30Emang lebih kecil dari tahun 2025?
07:31Ya, hampir sama.
07:3218 persen, ya, kalau dibanding komposisi APBN.
07:36Karena APBN kita kan nanti naik 4 ribu.
07:38Nah, jadi hitungannya pemangkasan itu hampir tidak bergerak sekitar 18 persen tinggal.
07:45Padahal toleransinya sampai 30 persen?
07:47Enggak, bukan.
07:48Itu pegawai.
07:49Oh, pegawai.
07:49TKD aja.
07:50TKD aja.
07:51Ini lebih kepada alokasi anggaran?
07:53TKD itu paling ideal, seperti 900-an T atau 25 persen.
07:57Kalau saya mempelajari, harusnya sekitar 30-an persen TKD.
08:0130 persen?
08:02Ya, 70 persen untuk pusat, boleh.
08:04Oke, oke.
08:05Sebelum ke teknis, saya...
08:0670 persen, Bani 30 persen.
08:08Dari APBN.
08:0970 persen, mustinya.
08:10Oh, gitu tuh.
08:11Saya ke Pak Bursa-Pak Bursa sebagai Ketua Apkasi, sebagai Kepala Daerah.
08:17Saya ingin juga pandangan Anda terhadap insiden yang kemarin terjadi di Hari Kemerdekaan.
08:22Pernah jadi perbincangankah di para Kepala Daerah, khususnya Bupati soal ini?
08:27Karena ini kan kaitannya waktunya bersamaan dengan satu situasi pemangkasan lah.
08:32Dan sudah hampir satu tahun kan, sebetulnya.
08:34Anda melihat seperti apa?
08:36Kalau spesifik sih, nggak ada hasil-hasil pemangkasan.
08:39Kecuali yang Papua, Pak ya.
08:41Namanya Kudanan Desa.
08:42Tapi kalau yang di Aceh itu, ya ria-ria saja, Pak ya.
08:46Ria yang sering juga terjadi kok.
08:48Menarik bendera, Merdeka, Papua juga begitu.
08:51Tapi ini kan mesti kita perhatikan.
08:55Mesti kita respon secara positif.
08:58Karena ada persoalan besar kita itu sebetulnya soal TKD ini.
09:02Soal TKD ini yang sebelumnya belum terjadi, kaget.
09:07Karena ini kan belum disosialisasi sebelum 10 tahun sebelumnya.
09:13Tiba-tiba?
09:13Langsung diputuskan dan dijalankan.
09:15Kita memahami ada kebutuhan pusat ya, penyesuaian untuk program strategis.
09:21Tapi memang saya dulu berpendapat begini.
09:26Meskipun strategis, kan bisa bertahap gitu loh.
09:29Misalnya Merah Putih 30 ribu nih, Pak ya.
09:33Nah cukup lu 30 ribu gitu loh.
09:35Yang lainnya harus disupport ke daerah.
09:37Karena daerah ini penopang nasional kan.
09:40Penopang nasional.
09:41Kalau sentra ekonomi tidak hidup,
09:44dia justru tidak bisa meleverage pertumbuhan nasional PDB kita.
09:49Karena kan PDB itu agregat.
09:53Pak Bursa kenapa saya tanyakan itu dalam konteks Ketua Apkasi?
09:57Tadi di awal membuka saya mengatakan bahwa yang namanya TKD itu terkait dua hal besar.
10:02Satu soal stabilitas ekonomi daerah.
10:04Yang kedua soal integrasi nasional.
10:06Nah yang terjadi di Aceh kemarin itu kan bagian dari yang memang masuk dalam lingkup rumpun integrasi nasional.
10:13Itu yang saya ingin dalam.
10:14Ya saya, kalau saya pribadi kita gak ingin mengulang seperti periode periode periode semesta.
10:21Ya tentu jangan.
10:22Itu bagian percikan dari ketidakadilan fiskal ke daerah.
10:28Itu kan reaksi daerah kan.
10:30Walaupun sebetulnya gak perlu ada pertumpuan darah.
10:32Kita enak berunding sebetulnya ada nimbulkan masalah.
10:37Nah jadi saya berpendapat ya relaksasi TKD ini haruslah dimulai dari 2028 ya.
10:46Jadi apa yang bisa kita moratorium dulu kita moratorium.
10:51Misalnya tadi saya contohkan koperasi 30 ribu.
10:54Nah ini dulu kita perkuat.
10:56Supaya dia bisa menjadi faktor penggerak ekonomi.
11:01Nah saya yang khawatirkan 30 ribu koperasi ini tidak menghasilkan apa-apa ke depan.
11:07Anda mau bilang bahwa sebaiknya program protestasional kooperasi merah putih termasuk juga makan bergeji gratis itu juga ada penyesuaian dan
11:16kemudian tidak dilakukan bertahap kan?
11:18Bertahap.
11:19Oke.
11:19Betul.
11:20Dan hari ini Anda melihat semuanya seberat-seberat dan itu berdampak langsung ke daerah.
11:23Karena kooperasi ini semacam nafas kita apalagi ini diperkuat oleh Pak Prabowo kan.
11:27Ini kooperasi ini sebetulnya nafas sejarah kita yang paling cocok dengan Indonesia.
11:33Jadi Pak Bursa ini maunya kooperasinya bertahap karena ini terkait dengan...
11:38Bukan, bukan. Ini kan sudah ada 30 ribu ini Agustusnya.
11:41Menurut saya ini dulu diperkuat.
11:43Oke.
11:44Pertama diperkuat 30 ribu ini sisanya di Moratrium.
11:48Begitu sudah kuat tahun depan masuk lagi kooperasi.
11:51Kita kan butuh 80 ribu Pak.
11:53Dan itu kan yang disampaikan Pak Bursa itu kan ada kaitannya kan dengan alokasi...
11:58Oh iya.
11:58Kalau dia 30 ribu dulu itu kan semuanya 240 triliun tuh Pak ya.
12:03Jadi 0,3 persen itu kali 240 berkurang sekitar 174 triliun.
12:09Oke.
12:10Berarti 160 triliun ini harus bisa dialokasikan ke daerah.
12:16Oke.
12:16Jadi 30 ribu ini kita mantapkan, sudah menghidupkan ekonomi daerah, baru lanjut lagi gitu.
12:22Oke. Kita akan bahas lagi diskusinya lebih mendalam.
12:24Tetaplah di satu menjadi forum.
12:26Akan kembali setaat lagi.
12:27Sampai jumpa di video selanjutnya.
12:27Sampai jumpa di video selanjutnya.
12:27Sampai jumpa di video selanjutnya.
Komentar

Dianjurkan