- 2 hari yang lalu
- #ekonomi
- #rupiah
- #indonesia
JAKARTA, KOMPAS.TV - Lembaga pemeringkat utang atua Fitch Rating mengatakan penurunan cadangan devisa secara tajam dan berkelanjutan bisa menambah tekanan pada peringkat utang Indonesia.
Dalam analisisnya, Fitch bilang intervensi valuta asing oleh Bank Indonesia telah mengurangi cadangan devisa dan menyerap likuiditas rupiah, sehingga memperketat kondisi pendanaan domestik.
Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga, Rahma Gafmi mengatakan laporan Fitch setidaknya ada tiga poin krusial yang perlu dicermati.
"Fitch memberikan penilaian sangat mendalam mengenai pelaporan rapuhnya fondasi makro ekonomi kita," ujar Rahma, Selasa (7/7/2026).
Baca Juga Menkeu Purbaya Beber Rasio Utang Indonesia, Bandingkan dengan AS-Malaysia di https://www.kompas.tv/nasional/668139/menkeu-purbaya-beber-rasio-utang-indonesia-bandingkan-dengan-as-malaysia
#ekonomi #rupiah #indonesia
Produser: Ikbal Maulana
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/ekonomi/679182/full-laporan-fitch-terkait-ekonomi-indonesia-bayangi-pelemahan-rupiah-ini-kata-pengamat-kombis
Dalam analisisnya, Fitch bilang intervensi valuta asing oleh Bank Indonesia telah mengurangi cadangan devisa dan menyerap likuiditas rupiah, sehingga memperketat kondisi pendanaan domestik.
Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga, Rahma Gafmi mengatakan laporan Fitch setidaknya ada tiga poin krusial yang perlu dicermati.
"Fitch memberikan penilaian sangat mendalam mengenai pelaporan rapuhnya fondasi makro ekonomi kita," ujar Rahma, Selasa (7/7/2026).
Baca Juga Menkeu Purbaya Beber Rasio Utang Indonesia, Bandingkan dengan AS-Malaysia di https://www.kompas.tv/nasional/668139/menkeu-purbaya-beber-rasio-utang-indonesia-bandingkan-dengan-as-malaysia
#ekonomi #rupiah #indonesia
Produser: Ikbal Maulana
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/ekonomi/679182/full-laporan-fitch-terkait-ekonomi-indonesia-bayangi-pelemahan-rupiah-ini-kata-pengamat-kombis
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:10Intro
00:13Anda menyaksikan kompas bisnis, saudara bersama saya Nanda Prilia,
00:17lembaga pemeringkat utang Fitch Ratings menyoroti risiko turunnya kepercayaan investor dan cadangan devisa.
00:26Menurut Fitch, penurunan cadangan devisa secara tajam dan berkelanjutan bisa menambah tekanan pada peringkat utang Indonesia.
00:34Selain itu, dalam analisisnya, Fitch bilang intervensi falas oleh BI telah mengurangi cadangan devisa dan menyerap likuiditas rupiah,
00:42sehingga memperketat kondisi pendanaan domestik.
00:45Kondisi ini berkontribusi pada peningkatan bertahap posisi short net mata uang asing yang mencapai hampir 27 miliar dolar AS pada
00:54akhir Mei.
00:55Fitch juga menekankan kebutuhan falas bisa meningkat di masa mendata.
01:06Data dari Jisdor Bank Indonesia, pada perdagangan Senin, rupiah kembali ditutup melemah ke level 17.999 per dolar AS.
01:16Tinggal 1 poin menuju 18 ribu.
01:19Sementara selama sepekan terakhir, rupiah masih belum mampu keluar dari angka 17.900an.
01:24Pada 1 Juli, di level 17.961, melemah di 2 Juli ke angka 17.994.
01:34Sempat menguat tipis pada 3 Juli di 17.960.
01:39Sedangkan transaksi di perbankan, dolar sudah dijual di atas 18 ribu rupiah.
01:47Cadangan devisa RI pada Mei 2026 menyusut 1,3 miliar dolar AS dibandingkan akhir April yang masih berada di 146
01:55,2 miliar dolar AS.
01:57Bahkan jika dibandingkan akhir Januari, cadangan devisa menyusut 9,7 miliar dolar AS dengan kurs 18 ribu.
02:06Artinya setara dengan 174,6 triliun rupiah.
02:10Meski demikian, Saudara Bank Indonesia meyakini ketahanan sektor eksternal tetap baik,
02:15didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai,
02:17serta aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional,
02:24dan juga imbel hasil investasi yang tetap menarik.
02:31Badan Pusat Statistik mencatat Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan pada Mei 2026.
02:38Ini menjadi defisit pertama setelah Indonesia membukukan surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut.
02:46Devisit Mei 2026 senilai 1,61 miliar dolar AS, jadi yang terdalam sejak April 2019.
02:53Ketika kala itu, Indonesia mencatat defisit perdagangan sebesar 2,33 miliar dolar AS.
02:59Sementara sepanjang 2026 dari Januari hingga April, tercatat masih surplus.
03:05Menurut sejumlah ekonom, patahnya tren surplus neraca perdagangan Indonesia bukan hanya menjadi catatan di atas kertas,
03:12tapi kondisi ini memunculkan kekhawatiran baru terhadap daya tahan rupiah.
03:22Lembaga Pemeringkat Tutang, Fitch Rating, Soroti, Risiko, Turunia, Kepercayaan Investor, dan Candangan Devisa.
03:28Sejauh mana laporan Fitch ini berdampak pada pelemahan rupiah?
03:32Dan bagaimana seharusnya pemerintah merespons laporan ini, Saudara?
03:35Kita akan bahas bersama dengan Guru Besar Fakultas Ekonomi, Universitas Erlangga, Prof. Rahma Gafmi,
03:40yang sudah terhubung bersama kami melalui semangat daring.
03:42Selamat pagi, Prof. Gafmi, apa kabar?
03:46Alhamdulillah, baik Mbak Nanda, selamat pagi juga.
03:49Prof. Gafmi, kita melihat kondisi saat ini lebih dulu.
03:52Pada perdagangan kemarin, rupiah kan ditutup di Rp17.999 per dolar AS.
03:58Sebenarnya dari sudut pandang Prof sendiri,
04:00seberapa besar sih laporan terbaru Fitch ini mempengaruhi respons pasar,
04:04sampai dengan gejolak nilai tukar rupiah?
04:06Ya, baik Mbak Nanda, sebenarnya melihat dari laporan terbaru Fitch Ratings ini,
04:15yang dirilis awal Juli kemarin itu, itu adalah bertindak sebagai pemantik sentimen negatif ya,
04:22yang tentunya sangat signifikan Mbak Nanda dalam menekan psikologis pasar gitu ya.
04:27Karena ini jelas kemarin kita tahu bahwa penutupan rupiah
04:34sampai menyentuh level psikologis baru di Rp17.999 itu artinya apa?
04:42Itu adalah sudah mendekati level yang sangat krusial,
04:48yang sangat mengkhawatirkan sebenarnya.
04:51Nah, kalau kita lihat pengaruh laporan Fitch ini terhadap gejolak nilai tukar itu,
04:55itu sebenarnya ada tiga poin yang sangat krusial yang kita harus cermati Mbak Nanda.
05:01Pertama, kalau kita lihat, Fitch ini kan memberikan penilaian sangat mendalam ya,
05:06mengenai perapuhnya fondasi makroekonomi kita dalam jangka pendek ini.
05:12Nah, indikator yang digarisbawahi itu sebenarnya adalah meliputi pengetatan cadangan divisa
05:17yang tadi Mbak Nanda sudah bahas, yaitu turun sekitar 4,6% periode Maret sampai Mei kemarin.
05:25Nah, pelemahan nilai tukar yang persisten ini termasuk juga arus modal keluar
05:30atau capital outflow yang sangat masif, ini juga yang mengkhawatirkan Fitch.
05:35Jadi, ketika lembaga rating internasional itu menyuarakan hal ini,
05:39artinya apa?
05:40Investor itu cenderung mengambil posisi defensif Mbak Nanda.
05:44Nah, yang kedua, kalau kita lihat, sebenarnya ini sudah kita wanti-wanti kepada pemerintah
05:50karena memburuknya tata kelola ekonomi yang dilihat oleh para investor.
05:54Ini sebenarnya Mbak Nanda adalah poin yang paling memukul kepercayaan market gitu ya.
06:00Jadi, artinya di sini fit menyoroti bagaimana peningkatan ketidakpastian kebijakan itu
06:06termasuk rencana sentralisasi ekspor komoditas itu yang melalui DSI itu juga,
06:13termasuk juga kemarin yang sangat rami itu adalah Undang-Undang P2SK.
06:18Ini adalah sebagai risiko yang mengikis kredibilitas policy mix.
06:23Nah, ini akan terjadi keraguan pasar terhadap disiplin fiskal
06:27yang juga tentunya nanti akan berpengaruh membuat premium risiko investasi di Indonesia meningkat, Mbak Nanda.
06:35Nah, inilah tentunya sebagai sinyal risiko downgrade rating kita nanti akan semakin nyata, Mbak Nanda.
06:42Kenapa? Karena pasar di sini akan membaca laporan fit yang terbaru ini
06:47sebagai kelanjutan dari peringatan bulan Maret lalu saat fit juga mengubah outlook utang Indonesia menjadi negatif gitu ya.
06:56Nah, ini fit juga tentunya memperingatkan bahwa tekanan berkepanjangan ini akan mendongkrak biaya pinjaman pemerintah
07:07dan juga akan memperbesar peluang penurunan peringkat utang kita yang nanti akan terjadi di masa yang akan datang.
07:15Nah, efek multiplier-nya di market tentunya sangat luar biasa.
07:18Kenapa?
07:19Karena pengaruh laporan fit ini, Mbak Nanda, sudah berkali-kali itu lebih sensitif
07:24untuk melihat momentum rilisnya bertepatan dengan divisi raca perdagangan kita di Mei kemarin itu ya
07:32sampai sekarang itu adalah 1,61 miliar USD.
07:39Nah, ini artinya apa?
07:41Selama kita 72 bulan berturut-turut kita mengalami surplus,
07:47ini mematahkan terjadinya surplus yang selama 72 bulan berturut-turut itu.
07:53Sehingga kombinasi antara rapor merah tata kelola dari fit juga,
07:57termasuk juga terjadinya jebolnya surplus dagang kita dan eksternal kita,
08:03ini yang masih ada eksternal shock terhadap kita itu artinya apa?
08:08Ada berupa ketidakpastian negosiasi Amerika Serikat Iran di Selat Hormos,
08:13ini juga semakin mendorong dan menciptakan perfect storm
08:17yang membuat upaya intervensi agresif Bank Indonesia ini tidak ngaruh gitu, Mbak.
08:23Walaupun Bank Indonesia ini sudah menaikkan suku bunga beiritnya itu
08:27ke level 5,75% secara berturut-turut.
08:32Nah, ini tentunya masih tetap bertahan menciptakan sentimen negatif.
08:37Nah, inilah yang tentu perlu kita waspadai, Mbak Nanda, gitu.
08:42Oke, saya tangkap sebenarnya itu sudah mungkin bisa diaktikan sebagai warning
08:46untuk pemerintah dan juga instansi terkait,
08:49tapi saya menyoroti apa yang tadi disampaikan oleh Prof,
08:52bahwa selain dari pelemahan rupiah kan di laporan FIS ini
08:55ada juga penurunan cadangan devisa hingga arus modal keluar yang masif.
08:58Ini mengartikan apa sih, Prof?
09:00Jadi gini, Mbak.
09:02Pada MI, 2026 BPS sudah jelaskan melaporkan bahwa
09:06neraca perdagangan Indonesia itu mencatat devisit sebesar 1,61 miliar, gitu ya.
09:11Nah, termasuk juga ini berpengaruh kepada cadangan devisa kita, Mbak Nanda.
09:16Kenapa?
09:17Karena kita lihat ya,
09:18secara mendasar kombinasi dari 3 fenomena tersebut,
09:21termasuk pelemahan rupiah,
09:23penurunan cadangan devisa,
09:24dan arus modal keluar yang masif itu
09:27artinya mengartikan bahwa
09:28Indonesia itu sedang mengalami tekanan likuiditas falas yang sistemis
09:33akibat krisis kepercayaan pasar jangka pendek.
09:36Nah, intinya kalau kita lihat, Mbak Nanda,
09:40kita sekarang ini ada di lingkaran setan makroekonomi sebenarnya yang sedang bekerja.
09:46Artinya, seperti kita lihat adanya investor asing melepas aset rupiah itu,
09:52mereka termasuk juga saham dan juga apa namanya SBN,
09:56karena mereka khawatir akan risiko geopolitik global ini
10:00dan sentimen domestik itu seperti laporan feed itu masih terjadi.
10:04Sehingga di sini akan berpengaruh,
10:05jelas kita sekarang sudah mengalami gitu ya,
10:08berpengaruh terhadap pelemahan rupiah.
10:10Untuk membawa pulang dana tersebut,
10:12maka investor asing harus menukarkan rupiah mereka ke dolar gitu kan.
10:16Sehingga permintaan dolar akan melonjak drastis.
10:19Nah, ini langsung memukul nilai tukar rupiah hingga mendekati level 18 ribu.
10:23Pagi ini, Mbak Nanda, sudah 18 ribu lewat gitu.
10:26Nah, cadangan devisa yang merosot ini tentunya terpaksa melakukan apa?
10:31Karena Bank Indonesia ini kan melakukan intervensi agresif di pasar falas,
10:36baik itu spot, DNDF, maupun pasar SBN, Mbak Nanda.
10:39Sehingga dengan menggelontorkan dolar Amerika Serikat dari cadangan devisa
10:43untuk menahan agar rupiah itu tidak terlalu jatuh,
10:48maka ini juga yang menguras cadangan devisa kita.
10:50Namun, karena adanya suatu kredibilitas yang kurang dipercaya oleh investor,
10:55maka ini yang menyebabkan nanti lama-lama cadangan devisa kita akan tergerus semakin habis.
11:01Dan inilah juga semakin meningkatkan risk premium utang kita, Mbak Nanda.
11:06Kenapa?
11:07Karena di sini, kalau cadangan devisa kita itu tergerus habis,
11:11ini tentunya artinya apa?
11:14Kemampuan atau nafas Bank Indonesia untuk mengawal stabilitas monotek itu ke depan,
11:18itu semakin terbatas.
11:20Nah, tentunya Mbak Nanda, ini jika cadangan devisa itu terus terkuras
11:24untuk menahan outflow misalnya,
11:26atau untuk meredam outflow misalnya,
11:29maka amunisi Bank Indonesia ini akan menipis tepat di saat ketidakpastian global
11:34seperti masih adanya uncertainty, selat hormus dan sebagainya,
11:39sedang tinggi-tingginya.
11:40Walaupun kemarin ada juga genjatan senjata,
11:43walaupun apa, kita sekarang masih uncertainty tentang pengaruh geopolitik gitu.
11:48Sehingga apa?
11:48Market di sini membaca sebagai penurunan tingkat resilient Indonesia terhadap external shock itu
11:55masih sangat dalam, Mbak Nanda.
11:57Nah, ini yang tentunya kita lihat bahwa capital outflow yang masif ini,
12:02Mbak Nanda, menandakan bahwa premium risiko Indonesia itu dianggap sudah tertinggi oleh investor,
12:08walaupun Bank Indonesia sudah mengerek suku bunga bi-irit sampai ke level 5,75%,
12:14maka selisih keuntungan yang kita lihat di sini,
12:18yield spread yang ditawarkan oleh aset keuangan Indonesia itu dinilai
12:23belum cukup sepadan untuk menutup risiko peleman rupiah
12:27dan ketidakpastian tata kelola ekonomi yang sudah disorot oleh FIT ini.
12:32Nah, akhirnya apa, Mbak Nanda?
12:33investor itu lebih memilih memarkir dananya di aset yang sebagai safe haven
12:39atau kembali ke Amerika Serikat sebagai flight to quality mereka.
12:43Maka market ini artinya apa?
12:45Mengartikan bahwa saat ini tidak lagi melihat persoalan rupiah hanya sekadar faktor musiman, Mbak Nanda.
12:51Seperti kemarin disampaikan kan ada repatriasi dividen di kuartal ke-2 gitu kan,
12:56nanti di kuartal ke-3 maka akan ada rupiah ini akan menguat dengan sendirinya.
13:02Ternyata kan tidak.
13:03Nah, ini apa?
13:04Ini sebenarnya sebuah tantangan struktural yang serius, Mbak Nanda.
13:08Jadi, sentimen pasar itu sekarang beralih dari risk on ke risk off gitu, Mbak Nanda.
13:14Secara ekstrim terhadap aset-aset Indonesia.
13:17Ini yang sangat krusial sekali dan tentunya ini pemerintah sudah harus bersikap.
13:23Yang bagaimana, kalau saya nilai Mbak Nanda, kredibilitas itu lebih mahal daripada mata uang itu sendiri.
13:30Oke, saya tangkap ini tantangan bagi struktural dan kita berbicara mengenai resiko penurunan peringkat utang.
13:36Apalagi yang mungkin akan terjadi dari laporan FIT ini.
13:39Tapi kita tahan dulu, Prof Gahmi, kita akan kembali usai jidat.
13:42Tetap bersama kami di Kompas Bisnis, Saudara.
13:52Kami mencari tahu, mendengarkan, lebih utuh, dan mendalam.
14:00Kami mempertanyakan rasa keadilan, klarifikasi.
14:06Masa kita saling melengkapi bisa menyuarakan apa yang menjadi rosolnya publik.
14:10Kami, Rosie.
14:12Ruang OPD.
14:13Sumber informasi.
14:24Dari hobi traveling, sampai sepeda gunung, jadi makin nikmat barat Indomie goreng.
14:33Bikin hidup sedikmat Indomie goreng.
14:36Sarap sehat bikin aktivitas jadi lebih nyaman.
14:39Aduh, kebas, kesemutan.
14:41Hema Vito Nuro Forte.
14:42Obati kebas dan kesemutan akibat kurang vitamin, nyurotropik.
14:45Hema Vito Nuro.
14:46Untuk cegah, datang lagi.
14:47Hema Vito Nuro Forte obati.
14:48Hema Vito Nuro cegah.
14:49Dari Hema Vito.
14:50Dipercaya sejak 19-1977.
14:53Menanti waktu rehat di siang hari dengan sejumlah informasi.
14:57KPK membenarkan pihaknya melakukan operasi tangkap tang.
14:59KPK juga menyita sejumlah uang dalam mata uang rupiah.
15:02Mengikuti sumber berita yang selalu menginspirasi.
15:05Perkaitan kita tanpa batas ini ditunjukkan oleh sekelompok pengrajin ibu-ibu yang ada di kota Makassar.
15:10Kompas Siang.
15:11Setiap hari pukul 11 siang live di Kompas TV.
15:19Didukung oleh...
15:21Kompas Pesan 2 yang pertama.
15:24Fokus bisa berkurang karena gejala sakit flu.
15:27Bersin-bersin karena flu.
15:28Minim Ultra Flu.
15:29Efektif meredakan flu dan sakit kepala.
15:32Untung ada Ultra Flu.
15:33Flu reda, lega rasanya.
15:35Dengan kemasan baru.
15:37Inasua.
15:38Bidangan fermentasi ikan khas masyarakat Teon Nila Serua di Maluku.
15:41Impan jejak sejarah dan identitas budaya yang terus dijaga hingga kini.
15:45Dari resep warisan neluhur hingga inovasi produk masa kini.
15:48Inasua menjadi simbol ketahanan dan kebersamaan masyarakat TNS.
15:52Bagaimana upaya pelestarian kuliner tradisional ini di tengah perubahan zaman?
15:56Mata Indonesia.
15:57Selasa 7 Juli pukul setengah sepuluh pagi di Kompas TV.
16:02Dipersembahkan oleh...
16:27Kembali lagi di Kompas Bisnis.
16:28Saudara masih terhubung bersama kami, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Erlangga, Prof. Rahma Gavmi.
16:34Kita melanjutkan perbincangan yang tadi Prof. Gavmi.
16:37Tadi kan disinggung mengenai cadangan devisa.
16:39Dari laporan Fitch, proyeksikan mengenai cadangan devisa sendiri,
16:43ini akan mencukupi untuk 4,9 bulan pembayaran eksternal pada tahun 2026.
16:48Sementara cadangan devisa akhir Mei di 5,6 bulan pembayaran.
16:52Apakah dari Prof. Gavmi sendiri melihat sebenarnya resiko penurunan peringkat utang ini sudah di depan mata, Prof?
16:59Mbak Nanda, urgensi berada pada level yang sangat mendesak menurut saya saat ini.
17:06Khususnya bagi negara kita, kan ini negara kita Indonesia Emerging Market ya Mbak.
17:10Jadi fondasi utama itu untuk menarik modal asing sebenarnya kan adalah berada pada kredibilitas kebijakan dan kepastian hukum.
17:17Jadi ketika lembaga rating global itu seperti FIT itu mulai mempertanyakan aspek tata kelola dan juga disiplin fiskal,
17:26maka taruhannya itu bukan lagi sekadar fluktuasi harian daripada krus rupiah itu sendiri.
17:32Tapi melainkan reputasi investasi negara dalam jangka panjang Mbak Nanda.
17:37Jadi intinya kalau risiko-risiko ini tetap diabaikan gitu Mbak,
17:42karena kita nanti potensi downgrade rating utang itu menjadi menurut hemat saya itu adalah jangbon gitu Mbak.
17:48Jadi saat ini outlook utang Indonesia itu berada di posisi negatif.
17:53Jadi jika pemerintah ini abai untuk menjaga disiplin fiskalnya,
17:57misalnya memaksakan pelebaran divisit APBN itu melebih batas aman atau merevisi undang-undang keuangan negara itu secara ugal-ugalan,
18:05maka FIT itu dapat mengeksekusi penurunan peringkat utang ini dari triple B ke minus atau negatif Mbak,
18:13atau bahkan jatuh ke level spekulatif.
18:17Nah ini yang saya jangan sampai gitu menjadi jangbon gitu Mbak.
18:21Apa? Karena ini sangat bahaya Mbak Nanda, banyak institusi nanti terutama dana pensiun gitu ya,
18:28manager investasi yang besar atau secara global gitu, itu memiliki regulasi ketak Mbak.
18:35Jadi artinya apa? Mereka itu dilarang memegang aset dari negara-negara yang berstatus non-investment grade.
18:41Jadi jika ini terjadi Mbak Nanda, itu akan terjadi apa yang disebut dengan force selling,
18:46yaitu secara massal, yang jauh lebih destruktif dari yang terjadi kemarin.
18:52Nah yang kedua Mbak, ketika kredibilitas kebijakan AMRU,
18:57ini investor kan akan menuntut imbal hasil atau yield yang lebih tinggi, jauh lebih tinggi lagi.
19:02Sehingga sebagai kompensasi atas risiko untuk memegang surat utang pemerintah ini,
19:08kalau pemerintah tidak menyiapkan yield yang lebih tinggi,
19:10maka tentunya nggak ada yang mau sama sekali gitu.
19:14Bahayanya nanti apa? Yield SBN-nya itu akan sangat drastis melonjak Mbak.
19:18Berarti apa? Pemerintah itu harus membayar bunga utang yang jauh lebih mahal yang ada di APBN kita.
19:25Akhirnya apa? Anggaran yang seharusnya digunakan untuk subsidi, energi, pendidikan, atau infrastruktur,
19:32maka terpaksa nanti tersodot hanya untuk membayar bunga utang,
19:36sehingga APBN kita menjadi tidak produktif Mbak Nanda nanti ke depan.
19:41Ini kita lihat Mbak, karena kenapa ya? Kita kan juga tahu Mbak,
19:45kenapa sih padahal BI ini sudah gencar untuk intervensi gitu ya,
19:51menaikkan BI rate-nya juga sudah tiga kali berturut-turut.
19:54Kenapa masih rupiah ini nggak turun-turun gitu ya?
19:58Ini kan dipicu runtuhnya kepercayaan market sebenarnya,
20:01akan membuat biaya impor melambung tinggi Mbak.
20:04Kita akan nanti terjadi imported inflation.
20:06Apalagi Mbak, sekarang kita itu dunia itu mengalami gelombang panas
20:12yang juga itu akan mengancam inflasi pangan dunia Mbak.
20:16Sehingga ini nanti kita akan semakin kekeringan dolar Mbak.
20:19Dan tentunya juga kita akan mengalami kelangkaan bahan pokok.
20:23Nah, sektor-sektor real dan manufaktur ini tentunya Mbak Nanda,
20:28semua orang tahu itu bergantung pada bahan baku impor,
20:31termasuk pangan, energi juga.
20:33Itu akan mengalami tekanan hebat Mbak.
20:36Nah, nanti jika Bank Indonesia ini kehabisan amunisi cadangan divisanya,
20:40maka investor itu terus keluar secara masif.
20:45Likuiditas dolar nanti di dalam negeri akan semakin tidak ada,
20:49akan semakin kering.
20:50Nah, akhirnya apa?
20:51Perusahaan domestik terancam Mbak.
20:53Akan kesulitan kan, mendapatkan falas untuk perdagangan internasionalnya.
20:58Nah, kalau sudah terancam begitu apa Mbak?
21:00Di depan kita bayang-bayang PHK masal dan kelangkaan barang itu terjadi Mbak nanti.
21:05Nah, ini yang kita takutkan Mbak.
21:07Sehingga apa?
21:08Ini akan menjalar pada efek-efek domino yang lain,
21:12termasuk kepada industri perbankan juga Mbak Nanda.
21:14Karena tekanan di pasar modal ini dan nilai tukar itu akan langsung
21:19merayap juga generaca perbankan.
21:22termasuk juga cost of fund perbankan akan ikut terkerek naik,
21:26yang pada akhirnya apa?
21:27Memaksa bank itu menaikkan suku bunga kreditnya.
21:30Kalau suku bunga kredit naik,
21:32maka NPL-nya juga berpotensi melonjak.
21:35Sehingga apa Mbak?
21:36Kredit macet akan tinggi nanti?
21:38Karena pelaku usaha sudah kesulitan membayar cicilan utangnya kan?
21:42Seiring dengan melambatnya ekonomi.
21:44Maka inilah nanti juga akan merembet lagi,
21:47mengancam stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan.
21:50Maka ini tidak bisa kita menganggap selalu mengatakan resilient-resilient terus.
21:55Tapi apa yang harus dilakukan secara konkret?
21:58Maka kita harus mengembalikan kredibilitas ini kepada market, Mbak.
22:03Terutama adalah tata kelola good governance fiskal kita dan kepastian hukum.
22:08Kepastian hukum itu harus diiringi dengan teknokrasi dan bagaimana juga meritokrasi, Mbak.
22:15Ini yang dibaca oleh investor.
22:17Jadi investor ini sangat takut, Mbak, sekarang.
22:19Karena apa?
22:20Langkah emergensi yang dinanti pasar itu, yang dinanti market itu,
22:25sekarang market itu tidak butuh intervensi verbal, Mbak.
22:28Tapi investor itu menunggu sinyal konkret dari kementerian keuangan,
22:33otoritas terkait berupa apa?
22:35Komitmen tegas untuk menjaga divisit APBN itu tidak sampai melonjak di atas 3 persen.
22:41Termasuk juga transparansi penuh terkait rencana badan komunitas baru, DSI, Mbak.
22:48Ini juga mengancam, Mbak.
22:49Sehingga ini semua komplikatif, Mbak Nanda.
22:53Berarti, Prof, kita pertegas lagi di sini.
22:55Tadi Prof kan bilang harus ada langkah konkret di sini.
22:58Jadi apa yang sebenarnya perlu dilakukan oleh pemerintah dan juga BI?
23:01Karena dalam analisisnya saya singgung lagi, dari laporan FIS kan bilang intervensi BI telah mengurangi cadangan devisa
23:06dan menyerap likuiditas rupiah, sehingga memperketat kondisi pendanaan domestik.
23:10Sementara kebutuhan falas bisa meningkat di masa mendatang.
23:13Jadi apa yang perlu dilakukan pemerintah dan juga BI, Prof?
23:16Ya, Mbak Nanda.
23:18Jadi gini, kalau kita ingin, apa namanya, kalau saya, hemat saya.
23:23Untuk sementara, pemerintah ini menyampingkan ego sektornya dulu.
23:28Jadi mari kita memberikan suatu kepastian hukum kepada para investor di market kita ini.
23:35Apa yang langkah konkret yang perlu ditunjukkan.
23:39Dan kalau misalnya ada perubahan undang-undang dan sebagainya yang memicu adanya kepercayaan market ini semakin dalam,
23:48maka itu ditunda dulu.
23:49Karena saat ini belum waktunya.
23:52Jadi kita momentum itu belum tepat pada kondisi kita berada pada tekanan-tekanan baik itu eksternal maupun domestik.
23:58Yang selama ini memang investor itu namanya, investor itu, Mbak, kalau di pasar keuangan, Mbak,
24:06itu beda, Mbak, dengan kalau kita menarik misalnya foreign direct investment ya, Mbak.
24:11Kalau foreign direct investment itu kan membangun pabrik, Mbak.
24:13Kalau misalnya ada faktor cuaca seperti badai geopolitik misalnya seperti itu.
24:19Itu kalau kita kuat di sektor real, Mbak, kan tidak mudah investor itu untuk lari keluar gitu.
24:24Tapi karena kita ini masif di lembaga apa artinya di portfolio, maka itu sangat memudahkan.
24:31Maka nanti ke depan, yang saya tekankan, bagaimana menarik foreign direct investment setinggi-tingginya di Indonesia
24:38untuk membuat buffer supaya kita itu ada hantaman apapun.
24:43Kalau sektor real kita itu kuat, maka ini juga akan mendongkrak jangan sampai juga terjadi divisit raca perdagangan kita.
24:50Nah, kenapa kita sampai mengalami divisit raca perdagangan?
24:54Karena sektor real kita tidak kuat, Mbak.
24:56Lebih banyak membeli daripada menerima dolar kita.
24:59Lebih banyak membeli bayar impor daripada kita ekspor.
25:02Artinya apa? Di sektor real kita, senyampang menurunnya maruf faktur, kita semakin lemah.
25:09Kemarin juga PMI kita sampai turun ke level 4,49, Mbak.
25:14Jadi ini kan juga sudah ada suatu warning yang sangat kuat bahwa kita ini harus niru Vietnam.
25:21Apa yang perlu dilakukan, yaitu tadi kepastian hukum, jelas dan tegas, terus juga bagaimana teknokrasinya itu.
25:30Jadi Mbak gini, politik itu kalau dibarengi dengan teknokrasi, itu sangat bagus, Mbak.
25:36Termasuk juga meritokrasi.
25:37Jadi jangan politik ini di Indonesia dijadikan panglima, Mbak.
25:42Kalau politiknya dijadikan panglima, maka kita ini tidak bangun-bangun nanti, jatuh terus.
25:47Jatuh-bangun, jatuh-bangun, akhirnya tidak bangun-bangun.
25:49Seperti yang Latin Amerika, Mbak.
25:51Jadi sudah banyak contoh, Mbak.
25:53Jadi marilah kalau memang ini adalah tujuan untuk negara kita, untuk rakyat Indonesia.
25:58Kan Presiden selalu bilang untuk rakyat.
26:00Apapun di, apa namanya, di, jiwa raga pun katanya dipertaruhkan untuk rakyat.
26:08Maka harusnya, kalau itu begitu, maka ego-ego sektoralnya itu dikesampingkan.
26:14Politiknya itu dibarengin dengan teknokrasi dan meritokrasi.
26:17Itu juga dilihat, Mbak, sama lembaga rating gitu, Mbak.
26:21Karena itu akan berpengaruh pada good governance.
26:24Ketika misalnya Presiden ini tidak dibantu oleh orang-orang yang kapabel,
26:28yang mempunyai suatu kompetensi yang jelas,
26:31maka jelas di sini akan berpengaruh pada kebijakannya.
26:34Kebijakan itu selalu tidak memihak kepada semuanya.
26:38Baik itu sektor swasta, maupun juga rakyat, Mbak.
26:41Seperti itu, Mbak Nanda.
26:42Jadi intinya begini, Mbak.
26:44Kalau saya lihat, apa namanya, terkait dari kepercayaan investor ini, Mbak.
26:50Kekhawatiran fit ini terhadap kehadiran DSI dan sebagainya itu sebenarnya masuk akal, Mbak.
26:55Dan memiliki landasan-landasan risiko yang sangat kuat, hemat saya, Mbak Nanda.
27:00Jadi itu jangan dulu sekarang, kan itu nanti, kalau nggak salah, Mbak Nanda,
27:04di Januari 2027 itu sudah akan berlaku.
27:08Nah, itu, Mbak, risikonya yang saya lihat, ya, Mbak Nanda.
27:12Bagi pelaku pasar modal dan eksportir komoditas strategis itu,
27:16seperti misalnya batubara, CPO, dan juga veronical,
27:21itu kebijakan yang dijadwalkan rollout penuh pada 1 Januari 2027 itu, Mbak,
27:27memicu ketidakpastian regulasi.
27:30Jadi, regulatory uncertainty itu masih sangat kuat, yang sangat tinggi.
27:34Kenapa? Karena ada banyak beberapa alasan yang dipantau oleh investor, Mbak.
27:39Pertama apa? Adanya pricing power, Mbak.
27:42Dalam laporan fit itu, tentunya fit itu khawatir.
27:46Apa sih khawatiran terbesar fit itu? Artinya apa?
27:50Kewenangan untuk menentukan harga jual dan margin export, Mbak.
27:53Ini yang dikhawatirkan. Kenapa?
27:55Ya, kita pakai logika sederhana saja, Mbak Nanda.
27:57Selama ini kan korporasi komoditas kelas kakap itu seperti Indika Energi,
28:03terus Bumi Resource, atau juga Grup Sawit,
28:06itu kan memerangi persaingan global.
28:08Kenapa? Karena kecepatan negosiasi dan fleksibilitas harga yang langsung dari bayar itu bisa dianimati, Mbak.
28:15Jadi dia langsung kan dengan bayar sendiri gitu, Mbak.
28:19Karena ini nanti, Mbak, kalau DSI-nya juga ini tidak juga melihat dengan situasi yang kondisi yang kita sekarang lagi,
28:27apa istilahnya, permasalahannya lagi komplikatif gitu,
28:30maka jika jalur transaksi ini harus melewati DSI yang satu pintu itu,
28:37dianggapnya fleksibilitas korporasi itu akan tergerus, Mbak Nanda.
28:40Sehingga apa? Investor khawatir intervensi harga oleh DSI itu dapat memicu inefisiensi
28:47yang juga memangkas profitabilitas emiten, Mbak Nanda.
28:51Oke, Prof. Gafmi, maaf saya potong, saya menangkap apa yang disampaikan Prof. Gafmi,
28:55bahwa yang harus diperhatikan, berarti kan sesungguhnya adalah soal kepercayaan investor,
28:59yang dipicu kekhawatiran, kerebilitas kebijakan, disiplin fiskal,
29:02sampai dengan tata kelola pasar modal.
29:04Berarti kalau dari Prof sendiri sebenarnya melihat seberapa arjen pemerintah
29:08untuk merespons peringatan ini, dan apa bahayanya jika peringatan ini diabaikan, Prof?
29:14Oh, sangat urgen.
29:15Kalau pemerintah mengabaikan, maka jangan salah.
29:18Nanti kan sudah banyak, Mbak, orang, mohon maaf nih,
29:23investor-investor Eropa juga itu sudah sangat agak menjauh dari negara kita.
29:28Yang saya khawatirkan, nanti kalau tidak ada orang atau investasi ke kita,
29:33termasuk juga kita mau mencari utangan gitu, Mbak,
29:36ya, karena kita misalnya mengalami divisi, itu kan anggel.
29:39Nah, kalau kita tidak ada yang memberikan utangan,
29:41masa kita mau mencetak uang, Mbak?
29:43Kalau mencetak uang kan risikonya nanti kepada ekonomi kita semakin buruk, Mbak.
29:48Artinya apa?
29:49Money printing itu tidak baik,
29:51karena itu kalau tidak diimbangi dengan,
29:53apa namanya, ketersediaan barang dan jasa,
29:56ya, udah, kita tutup.
29:58Seperti tahun 60-an itu, Mbak Nanda.
30:00Akhirnya apa?
30:01Senering, kan, seperti itu.
30:02Semakin tidak berdaya rupiah kita,
30:05semakin tidak bernilai rupiah kita,
30:07itu yang sangat bahaya.
30:08Apa?
30:09Kedua lagi apa?
30:11Masyarakat kita semakin tidak memiliki pekerjaan.
30:13Kalau masyarakat kita semakin tidak memiliki kepercayaan,
30:17maka apa?
30:17Erosi sosial terjadi, Mbak.
30:19Yang terjadi apa nanti?
30:21Kriminalitas maka akan semakin meningkat.
30:24Oke.
30:24Bisakah pemerintah untuk mengatasi hal itu,
30:26sementara TNI-nya, polisinya sudah suruh bertani?
30:29Kan gitu, Mbak?
30:30Jadi, sekarang ini kan aneh-aneh gitu kebijakan, Mbak.
30:34Jadi, tidak pada poinnya,
30:35tidak pada pokoknya,
30:36tidak pada kompetensinya, gitu.
30:38Tentara sama polis disuruh bertani.
30:40Padahal kan tugasnya adalah menjaga keamanan,
30:42merindungi rakyat, kan, seperti itu, Mbak.
30:44Oke, berarti ada PR di depan ya,
30:46sebenarnya untuk pemerintah sendiri, nih, Prof.
30:48Tidak ada PR juga.
30:49Dan harus ada secara prioritas, Mbak Nanda.
30:52Baik.
30:52Prof, kita menyinggung soal DSI,
30:55tadi juga disinggung oleh Prof Gafmi,
30:57bahwa menyeroti kehadiran DSI ini
30:58juga dianggap resiko tinggi,
31:00karena detail operasional kebijakannya
31:01yang masih terbatas.
31:02Apakah kekhawatiran investor ini masuk akal, Prof?
31:05Kalau dari Anda berhatian.
31:06Masuk akal, masuk akal sekali, Mbak.
31:07Karena, gini, Mbak,
31:09kebijakan ekspor satu pintu ini
31:11yang bergulir di tengah pengetatan aturan ini,
31:15kan kemarin kan devisa hasil ekspor kita, DHE,
31:18di mana ekspor itu kan wajib memarkir 50%
31:21falas mereka di bank domestik
31:23selama satu tahun, Mbak Nanda.
31:24Nah, apa yang dijadikan ketakutan oleh investor di sini, Mbak Nanda?
31:28Kehadiran DSI ini memicu kekhawatiran baru
31:31mengenai kontrol perusahaan
31:33atas hasil penjualan falas mereka.
31:35Sehingga investor cemas
31:37akan terjadi hambatan-hambatan administratif
31:40atau penundaan pencairan dana.
31:42Nah, ini kan Indonesia, Mbak.
31:44Tidak seperti di luar, gitu,
31:46yang punya suatu infrastruktur yang cukup, gitu ya.
31:49Dan juga pengelolaannya transparan, gitu ya.
31:52Nah, pada akhirnya apa?
31:53Itu kan akan mengganggu arus kas, Mbak.
31:55Cash flow emitennya untuk membayar utang
31:58atau membagikan dividen kan juga terhambat.
32:00Siapa yang mau untuk melakukan investasi di Indonesia
32:04kalau itu terhambat?
32:05Akhirnya lari nanti.
32:06Sehingga juga ada emiten-emiten komoditas pasar
32:10yang besar itu, Mbak,
32:13akan membangun reputasi
32:14dan juga kontrak jangka panjang
32:16dengan pembeli misalnya di Cina,
32:18India, Jepang,
32:20misalnya selama puluhan tahun.
32:21Maka ketika DSI diposisikan sebagai eksporter utama,
32:26itu kan mengkonsolidasikan transaksi kontrak
32:29ada risiko hilangnya kendali perusahaan
32:32atas hubungan pelanggaran.
32:34Nah, ini yang dikhawatirkan oleh investor.
32:36Termasuk juga, Mbak Nanda,
32:39sekarang kita itu memang
32:40kalau lihat fit secara spesifik gitu ya, Mbak Nanda,
32:44itu kan menggarisbawahi bahwa
32:45mekanisme itu belum transparan.
32:48Jadi ketidakpastian mengenai
32:51besarnya biaya administrasi
32:53yang akan ditarik oleh DSI,
32:56bagaimana pembagian margin-nya juga,
32:59termasuk bagaimana
33:00kesiapan infrastrukturnya juga,
33:03infrastruktur logistik terutama,
33:05itu membuat pelaku pasar
33:08mengkategorikan DSI itu
33:10mempunyai risiko yang sangat tinggi.
33:11Jadi high uncertainty.
33:13Demikian, Mbak Nanda.
33:15Sehingga apa dampaknya, Mbak Nanda,
33:17ini sudah memberikan peringatan keras gitu fit ya.
33:21Jadi, jika ketidakpastian regulasi
33:23akibat DSI ini berlarut-larut
33:25dan merusak margin,
33:27serta juga meningkatkan risiko, Mbak,
33:30pada risiko falas korporasi,
33:33maka fit ini tidak segan-segan, Mbak Nanda,
33:36untuk menurunkan penilaian risiko
33:38negara kita, yaitu sektor pertambangan Indonesia,
33:43termasuk tadinya yang dari medium
33:44menjadi high gitu, Mbak Nanda.
33:46Baik, Prof.
33:47Berarti perlu menjadi pertimbangan untuk pemerintah,
33:49apalagi dalam analisis fit ini,
33:51kan juga memperhatikan
33:52soal kepercayaan investor
33:53yang dibicu beberapa hal,
33:54kekhawatiran, kredibilitas kebijakan,
33:57disiplin fiskal,
33:58sampai dengan tata kelola pasar modal.
33:59Terima kasih sudah berbagi insight-nya
34:01bersama dengan kami pagi ini
34:02di Kompas Bisnis,
34:03Guru Besar Fakultas Ekonomi
34:04Universitas Erlangga,
34:06Prof. Rahma Gafmi.
34:07Terima kasih, Prof.
34:08Sehat selalu, selamat pagi.
34:10Terima kasih, Mbak Nanda.
34:13Saudara, tetaplah bersama kami,
34:14kami akan kembali.
Komentar