Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Peneliti Monash University Indonesia, Ika Idris, menjelaskan hasil analisis media sosial terkait kembali viralnya video demonstrasi mahasiswa di berbagai platform digital.

Dari hasil pemantauan, tim Monash University Indonesia menemukan bahwa banyak video lama kembali beredar dengan narasi seolah-olah merupakan peristiwa yang baru terjadi.

Tim juga mengidentifikasi pola penyebaran yang diduga tidak berlangsung secara organik.

Ika Idris juga menekankan pentingnya membedakan percakapan yang organik dengan yang terorganisir.

Executive Produser: Theo Reza
Produser: Dian Septina
Content Creator: Shinta Millenia
Video Editor: Novaltri Sarelpa

#demo #demomahasiswa #hoaksdemo

Baca Juga Demo Agustus 2026, Isu atau Potensi? Berbagai Pihak Buka Suara | PAROSOT di https://www.kompas.tv/nasional/684512/demo-agustus-2026-isu-atau-potensi-berbagai-pihak-buka-suara-parosot



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/684652/video-demo-lama-sengaja-diviralkan-lagi-ada-pola-tak-wajar-zoomcast
Transkrip
00:04Video itu saya nyatakan tidak benar.
00:07Tidak ada di wilayah Indonesia, di tanah air kita, ada waks-waks yang seperti itu.
00:12Mungkin itu terdiri pada masa lalu.
00:14Pada saat sekarang ini ke depan tidak ada.
00:15Kami sudah bekerja bersungguh-sungguh dengan tenaga yang kuat dan keras kami bersama-sama.
00:21Dengan Pak Panlima, Pak Polri, Pak Kabin Selon memberikan penjepal informasi itu.
00:27Itu sama sekali tidak ada.
00:28Sama sekarang tidak kita perlukan itu.
00:34Ada akun-akun yang satu detik itu bisa meretweet banyak sekali.
00:40Sampai sembilan tweet gitu ya.
00:42Ad postingan tentang demo itu tau-tau di retweet dalam waktu yang cepat diamplifikasi.
00:47Jadi kita sendiri melihat kayaknya ini nggak mungkin deh.
00:54Analisis media sosial yang dilakukan Monas University Indonesia
00:58menemukan adanya pola terorganisir dalam peredaran kembali video demonstrasi mahasiswa
01:04yang disertai dengan berbagai narasi.
01:07Yang sebenarnya video atau foto tersebut merupakan dokumentasi aksi beberapa waktu lalu.
01:13Untuk memahaminya, lebih jauh kita berbincang dengan peneliti Monas University Indonesia,
01:18Ibu Ika Idris mengenai hasil riset dan konteks di balik fenomena yang terjadi saat ini.
01:24Ibu Ika, belakangan ini publik ini kembali melihat banyak video demonstrasi mahasiswa yang viral di media sosial.
01:31Apa yang mendorong dari tim Monas University Indonesia ini untuk meneliti fenomena yang terjadi saat ini, Ibu?
01:39Oke, jadi sebenarnya kita juga mendapatkan permintaan dari teman-teman jurnalis sebenarnya
01:50yang ke kita menanyakan ini seperti apa sih pemantauannya gitu.
01:56Karena di isu ini sendiri kan media salah satu yang didiskreditkan ya bahwa ternyata media itu banyak tidak meliput demo
02:06gitu ya.
02:07Terus mereka ingin tahu fenomena ini jadi kami analisis lah seperti apa gitu sih awalnya.
02:14Lalu kalau dari penelitian yang telah dilakukan ya Ibu, kemudian temuan-temuan utama
02:21dari analisis media sosial yang dilakukan dari Monas University Indonesia ini
02:26terkait ramainya video-video yang beredar ini apa Bu, temuan utamanya?
02:31Jadi memang di sini kami melihat beberapa hal.
02:38Pertama memang narasi ini adalah dinaikan lintas platform gitu ya.
02:44Nah, yang menariknya adalah memang tinggi kalau jadi kan kata kunci yang kami pakai adalah demo,
02:53demonstrasi gitu ya, aksi mahasiswa atau liputan demo.
02:57Nah, memang dia tinggi di sekitar tanggal 26 gitu ya, 26 Juli.
03:02Tapi sebenarnya kalau kita lihat ini banyak video-video lama.
03:07Artinya apa? Jadi video lama itu di-share kembali gitu ya.
03:11Atau tiba-tiba engagement itu tinggi ke video-video lama gitu ya.
03:15Jadi video yang bulan Juni waktu demo masih show-wee di Bundaran HI,
03:19tiba-tiba itu di-share lagi kembali gitu ya dengan narasi seolah-olah demo itu berlangsung hari ini gitu ya.
03:27Nah, yang kedua juga memang ternyata ada video-video demo yang dilebih-lebihkan gitu ya.
03:35Jadi ada AI di situ dengan jumlah masa yang lebih banyak.
03:39Nah, tapi yang menarik pas kita lihat ini memang sentimennya banyak yang negatif gitu ya.
03:47Pertama, negatif tentu berkaitan dengan minimnya liputan media atas aksi demo.
03:52Jadi itu banyak sekali kritik bahwa kayak media nggak meliput nih gitu ya.
03:57Terus yang kedua memang narasi lainnya adalah,
04:00oh ternyata ini media sosial juga nggak naikin gitu ya.
04:04Nah, jadi ternyata ada algoritma media sosial yang menghalang ini.
04:08Oleh karena itu, karena ada urgensi tadi gitu,
04:11ada ajakan untuk kita harus kabarkan atau kita share video-video demo
04:16agar orang tersampaikan lah informasi.
04:22Dan yang terakhir memang ada ajakan bahwa misalnya ada pembangunan persepsi
04:29bahwa ternyata ini berkaitan dengan kredibilitas pemerintah lah.
04:36Bahwa pemerintah tidak mampu mengatasi kondisi seperti ini dan macam-macam gitu.
04:41Nah, terus itu narasinya.
04:45Tapi ketika kami lihat ke bagaimana pesan-pesan itu disebarkan gitu ya,
04:52kami menemukan memang bahwa ini kayaknya dugaannya terorganisir deh gitu ya.
04:59Dalam artian ada pola-pola yang memang menurut kita tidak mungkin dilakukan oleh pengguna yang secara organik.
05:09Contoh pertama misalnya kita ambil ketika di tanggal 27.
05:13Jadi salah satu peaknya itu gitu ya, postingan yang tertinggi.
05:17Jadi dari sekitar 190 ribuan, postingan 50 ribu itu di tanggal 27.
05:23Dan ketika kami potret lebih dekat tanggal 27 itu memang ada postingan yang sangat tinggi
05:27misalnya di pagi dan sore hari.
05:29Terus ketika kita lihat lagi, ternyata itu memang ada akun-akun
05:34yang misalnya dia dalam satu detik itu bisa retweet banyak sekali sampai sembilan tweet gitu ya.
05:44Atau misalnya ada akun-akun yang ketika baru naik gitu ya, postingan tentang demo itu tau-tau di retweet dalam
05:51waktu yang cepat diamplifikasi.
05:53Jadi kita sendiri melihat kayaknya ini nggak mungkin deh kalau orang-orang kan nonton videonya aja 2-3 detik gitu
06:01ya.
06:01Terus kayak oke sharing nggak ya, mungkin cek sharing itu 5 detik kali ya gitu.
06:05Betul.
06:06Nah kalau ini jadi kita ngeliat oh ini kayaknya nggak mungkin deh kalau memang bukan program-program komputer gitu yang
06:15melakukan.
06:16Biasanya kan kadang ada dashboard untuk schedule, kapan untuk nge-share atau nge-retweet sesuatu gitu sih.
06:26Berarti bisa jadi kalau misalkan akun asli atau anonim mungkin bisa jadi ya Bu.
06:31Tapi kemungkinan besar berarti itu adalah penggunaan bot atau akun-akun otomatis yang secara komputer sudah terorganisir dan terschedule seperti
06:41itu ya Bu ya.
06:42Iya sih, jadi kalau melihat dari waktu mereka post itu kayaknya kemungkinan besar memang program komputer ya atau bot ya.
06:51Oke.
06:52Membahas terkait percakapan yang organik di media sosial ini, sebenarnya apa ya Bu yang menjadi pembeda nih?
07:02Yang membedakan antara percakapan di mana orang-orang yang secara terorganisir ini menyerukan demo sebesar ini kok tapi nggak diliput
07:11media gitu.
07:12Dengan percakapan organik di mana orang-orang ini tanpa masuk apa-apa ya, hanya pure mau ngobrol aja gitu di
07:20media sosial Bu.
07:21Oke jadi gini, percakapan yang terorganisir itu kan tujuan pertama adalah mengalihkan perhatian ya kan.
07:32Mendapatkan attention gitu ya, sehingga orang-orang engage ke pesan-pesan tersebut gitu kan.
07:38Nah, ketika kita lihat pesan-pesan di Instagram, di TikTok gitu ya.
07:43Nah, itulah baru muncul tuh misalnya kita lihat pas kita cek juga profilnya gitu ya, itu memang orang-orang yang
07:49concern.
07:50Nah, yang organik ini pertama misalnya dia banyak yang membantah gitu ya.
07:56Karena misalnya dia tuh kerja di sekitar Sudirpa Tamrin gitu ya, terus dia bilang enggak kok nggak ada gitu ya.
08:01Nggak ada demo ini karena memang ada misalnya demonya itu di tempat lain gitu ya.
08:07Waktu apa misalnya pas BMUI itu ada demo DMK yang putusan MBG gitu kan.
08:15Nah, tapi itu kan sebenarnya skalanya nggak kayak yang waktu demo bulan Juni gitu kan.
08:22Jadi ada juga tuh yang membantah gitu ya.
08:25Terus ada juga sebenarnya kekhawatiran gitu.
08:28Kenapa sih ini tahu-tahu muncul gitu.
08:30Itu banyak yang menjadi pertanyaan, ini apa sih tujuannya gitu.
08:33Itu pun menjadi pertanyaan kami juga kayak ini kenapa sih gitu.
08:38Nah, tapi jangan lupa ketika ini sebenarnya kan narasi yang diangkat itu adalah narasi yang memang kita sudah perbincangkan ya.
08:47Misalnya, tahu-tahu apa social media live itu diberhentikan ketika ada demo gitu kan.
08:55Itu kan pernah kejadian waktu demo bulan Agustus tahun kemarin.
08:59Nah, jadi sebenarnya orang-orang juga akhirnya ini mengingatkan kembali sih sebenarnya dengan kejadian-kejadian bagaimana misalnya pemerintah atau platform
09:13media sosial itu membatasi informasi kepada masyarakat.
09:18Jadi kita melihat akhirnya concern-concern yang kayak gitu sih yang akhirnya muncul secara organik ya.
09:27Tapi tadi terkait media sosial yang dibatasi yang tadi disebutkan oleh Bu Ika ya, sebenarnya ada dua sudut pandang ya
09:36dari masyarakat mungkin bisa jadi dibatasi karena mungkin dari pihak kemungkinan bisa jadi dibatasi karena untuk men-stop penyebaran hoax
09:49gitu ya.
09:50Untuk men-stop penyebaran hoax dan ada juga masyarakat yang mungkin beranggapan bahwa oh dari pihak pemerintah ini membungkam informasi
09:59-informasi yang kita sebarkan gitu lewat media sosial.
10:02Menurut Bu Ika seperti apa?
10:06Sebenarnya lebih banyak ke arah untuk pembungkaman ya atau misalnya membatasi informasi jadi bukan karena hoaxnya kalau dilihat dari narasinya
10:19tuh memang lebih kepada apa menyerang kredibilitas pemerintah berkaitan dengan pembatasan informasi.
10:29Jadi bukan karena ini hoax jadi harus disebarkan lebih kepada itu sih kalau yang saya lihat.
10:37Oke, kemudian terkait narasi bahwa media ini tidak meliput demonstrasi, apakah ada narasi-narasi lain yang dominan dalam unggahan-unggahan
10:50di media sosial tersebut Bu?
10:54Kayaknya memang banyaknya tuh misalnya yang paling yang berkaitan dengan media ini ya kayak misalnya apa ternyata misalnya media itu
11:08berpihak gitu ya.
11:10Tapi sebenarnya ada juga bantahan-bantahan Kompas TV masuk juga tuh misalnya kayak oh enggak kok ternyata pas kejadian ini
11:18ada kok di Kompas TV gitu ya.
11:20Jadi orang-orang juga apa banyak yang membantah juga sih misalnya.
11:25Walaupun memang kritik ini kan di tahun lalu itu kan banyak juga menyerang media ketika misalnya ada demo di mana
11:35-mana framing media ternyata itu merugikan mahasiswa gitu ya.
11:39Tapi pas di percakapan sekarang banyak juga yang membantah bahwa oh enggak benar kok karena ternyata media juga banyak yang
11:46bikin meliput secara live lagi gitu ya.
11:50Termasuk Kompas TV juga tuh disebut misalnya kayak enggak kok waktu demo ini ada di Kompas TV gitu gitu.
11:55Jadi kayaknya pas udah masuk ke Instagram tuh udah kalau di Twitter tuh kita ngeliatnya kayak mengamplifikasi setuju makin besar
12:06gitu percakapannya.
12:06Tapi ketika masuk ke Instagram itu kayak ada sistem pengecekan antara sesama netizen gitu ya.
12:16Tapi kalau Kompas TV memang suka ngeliput ini sih Budemu kan kadang ada juga live dari televisinya live untuk liputan
12:24itunya juga ada live dari Instagram juga bisa.
12:26Iya benar-benar itu masuk kok yang kayak gitu kaitan dengan media.
12:33Lalu sebenarnya ini Bu ini kan dari video-video tersebut kan diteliti ya.
12:39Kemudian bagaimana dari tim Monas University Indonesia ini mengetahui bahwa video-video yang beredar ini sebenarnya dokumentasi lama.
12:47Seperti apa sih Bu prosesnya?
12:50Oke jadi gini pertama memang ketika kita lihat misalnya pertama postingan tuh udah turun.
12:59Tapi kenapa itu masih muncul di feed gitu ya itu karena ada engagement baru di situ.
13:03Jadi itu kembali muncul tuh di feed orang-orang gitu ya.
13:06Bahkan ada juga orang-orang yang nge-post postingan itu di bulan Juni tau-tau kaget gitu ya.
13:12Ada beberapa community media lah yang bilang kayak loh kok kayaknya kita udah turun engagementnya tau-tau hari-hari kesini
13:20tuh makin naik lagi engagementnya.
13:23Karena ditonton lagi karena ternyata di-share lagi gitu ya.
13:26Itu satu.
13:27Nah terus yang kedua juga orang-orang kayaknya ketika penasaran langsung nge-cek ke website-website berita gitu ya.
13:39Atau langsung nge-cek ke Google.
13:41Buktinya pas kita cek di Google Trend lumayan naik tuh kata kunci demo gitu ya.
13:47Jadi kayaknya orang-orang juga udah mulai ini ya ya ada yang percaya tapi sebenarnya mereka juga udah menjalankan fungsi
13:56untuk mengecek informasi ya.
13:58Cuma emang mengherankan sih kenapa yang udah kemarin terus tau-tau muncul lagi gitu.
14:06Terkait video demonstrasi ini Bu kan dari Timonas Universi Indonesia ini juga menemukan konten-konten soal pemasangan pagar di Mall
14:14Jakarta dan Surabaya yang sempat ramai ya Bu akhir-akhir ini.
14:18Nah kalau dari kedua peristiwa tersebut kira-kira ada benang merahnya antara dua isu itu atau bagaimana?
14:26Ya jadi kami melihatnya gini memang kita menemukan tuh misalnya karena ada di Jakarta, di Surabaya gitu ya itu pemasangan
14:36pagar.
14:36Jadi kami melihatnya seperti ini, ini tuh kan ada upaya untuk menciptakan persepsi bahwa saat ini kondisinya tuh tidak aman
14:47gitu kan, bahwa akan ada kerusuhan gitu kan, ditambah lagi dengan kondisi ekonomi, pengangguran banyak dan lain-lain gitu.
14:57Nah tau-tau gitu kan ada mall-mall yang sebenarnya mall memasangi pagar ini kan jauh sebelum percakapan hoax soal
15:09demo ini mulai.
15:10Ramai, iya betul.
15:11Ramai, jadi mall dulu pasang gitu kan terus tau-tau udah ada spekulasi berkaitan dengan mall itu tapi karena ada
15:20kekosongan informasi ya itu kan semuanya spekulasi.
15:23Pihak mall nggak ada pernyataan, dari ini nggak ada pernyataan, tiba-tiba karena muncul, karena ada mall di Surabaya itu
15:31muncullah banyak video hoax ini.
15:33Jadi orang-orang, oh iya gitu ternyata menghubung-hubungan lah padahal barangkali itu, I don't know, itu sesuatu yang belum
15:42tentu berhubungan.
15:43Nah tapi untungnya sebenarnya ketika di Jakarta ada mall juga yang pasang, Gubernur DKI itu kan cepat kan merespon.
15:51Betul.
15:51Gubernur DKI cepat merespon, bilang bahwa oh ini kalau emang nggak usah diturunkan aja dan udah langsung diturunkan gitu kan.
16:00Nah jadi menurut saya itu jadi semacam signal lah atau gestur bahwa oh iya enggak kok ini buktinya di DKI
16:07diturunkan gitu ya.
16:09Jadi menurut saya upaya-upaya yang dilakukan juga oleh pemerintah untuk menunjukkan bahwa ini sebenarnya nggak ada masalah keamanan, nggak
16:21perlu serasah itu, itu juga penting sih menurut saya.
16:23Karena kalau nggak ada mungkin informasinya atau spekulasi masyarakat akan semakin liar ya.
16:30Nah terkait hal tersebut ya Ibu ya, terkait narasi yang tadi ya dari pagar mall kemudian juga untuk mengisi kekosongan
16:41informasi tersebut ada mungkin oknum ya yang masuk untuk menyebarkan berita-berita yang mungkin bisa disebut hoax.
16:51Begitu ya, sebenarnya ada nggak sih kemungkinan, kayaknya sepertinya memang sudah teridentifikasi ada keseragaman informasi ya bu di sini ya.
17:01Informasi-informasi yang maksudnya terorganisir gitu.
17:05Apakah ada sesuatu ya yang dibalik dari narasi-narasi ini atau mungkin memang ini ada aktor yang mendalangi dari aksi
17:16terorganisir ini bu, kira-kira seperti apa?
17:18Oke, pertama kalau aktor kita nggak sampai sejauh itu karena menurut saya di media sosial itu tidak cukup untuk menunjukkan
17:28siapa sebenarnya aktornya.
17:30Dan memang ketika kami cek ini sangat berbeda dengan misalnya percakapan-percakapan yang bisa dengan mudah diidentifikasi aktornya.
17:40Nah, misalnya contohnya gini deh, percakapan tentang MBG gitu ya, kalau kita analisis itu kan banyak juga akun-akun pemerintah
17:47gitu kan.
17:48Misalnya akun-akun polisi banyak, akun-akun TNI banyak gitu, karena memang kan polisi dan TNI juga turut menyukseskan MBG
17:55ini gitu kan maksudnya.
17:57Nah, itu kan gampang tuh kita kenali.
17:58Nah, tapi ketika di percakapan ini itu memang ketika kita profiling itu sangat ada aktor yang misalnya menunjukkan atau ada
18:10akun-akun yang ketika yang amplifier-nya besar itu mirip gitu.
18:14Tapi di tempat lain kita melihat loh kok ini profilingnya beda gitu ya, jadi kita juga sebenarnya nggak bisa menyimpulkan
18:20ini aktornya siapa.
18:22Nah, kedua memang kalau kita lihat ada kesamaan, jadi kita kan nganalisis semua postingan.
18:33Kita analisis penggunaan kata-katanya, penggunaan narasi, penggunaan framing gitu ya.
18:40Dan memang semuanya ini pertama menekankan pada urgency gitu ya, ini sangat urgent, darurat gitu ya.
18:48Yang kedua ini ingin menunjukkan adanya tekanan, tekanan ke media sama tekanan ke platform gitu ya, untuk tidak menyebarkan informasi
19:02ini.
19:02Nah, pertanyaannya adalah, dan kita sama-sama tahu, sekarang udah masuk bulan Agustus, sebentar lagi satu tahun peringatan demo besar
19:12-besaran Agustus gitu ya,
19:14dimana banyak sekali masyarakat atau aktivis-aktivis itu yang ditangkap gitu ya.
19:20Bahkan ada korban di situ, Avan Kurniawan gitu ya.
19:25Dan menurut saya itu Agustus adalah momen penting untuk kita sebagai masyarakat dan juga masyarakat sipil
19:33untuk memperingati apa yang terjadi, bagaimana protes kita waktu itu ditanggapi oleh rezim saat ini.
19:44Nah, jadi saya melihatnya, kok ini tiba-tiba masuk bulan Agustus, ada seolah-olah dibangun gitu ya.
19:52Ini ada demo, ada tekanan gitu.
19:56Padahal kita juga ingin merayakan atau mungkin ingin memperingati lah bulan Agustus ini kan gitu.
20:04Jadi kayak, kok seolah-olah dibangun kesan bahwa bentar lagi masyarakat sipil akan bergerak gitu ya,
20:13akan ramai, akan rusuh gitu.
20:15Padahal kan nggak tentu seperti itu.
20:18Nah, pertanyaannya adalah siapa yang diuntungkan dengan persepsi bahwa masyarakat sipil ini akan rusuh gitu kan.
20:26Siapa yang diuntungkan dengan persepsi bahwa negara kita akan terjadi riot, akan chaos.
20:33Nah, itu yang mungkin perlu kita tanyakan.
20:38Mungkin tugas dari jurnalis untuk investigasi.
20:43Untuk hal tersebut, mungkin kemungkinan ya, bisa jadi.
20:50Mungkin akan terjadi ke depannya gitu ya, Bu.
20:53Maksudnya penyebaran berita ini kan kita tidak bisa mengontrol ya, untuk ke depannya gitu.
21:01Apakah kira-kira ya, kira-kira resiko ke depannya kalau misalkan hal ini terjadi lagi di kemudian hari, itu seperti
21:09apa?
21:09Apakah bisa istilahnya mencuci otak masyarakat di Indonesia ini, Bu?
21:17Ya, tentu resikonya adalah kegerakan-gerakan masyarakat sipil gitu ya.
21:21Jangan sampai ketika memang masyarakat sipil mengajak untuk bergerak gitu ya, atau untuk melakukan advokasi.
21:31Jangan sampai sudah tercipta persepsi bahwa, ah ini masyarakat sipil maunya bikin rusuh aja nih dengan demo gitu kan.
21:38Itu yang sangat mengkhawatirkan padahal kan demonstrasi hak warga negara ya, siapa aja boleh.
21:44Dan demo pun juga kan misalnya bisa, misalnya aksi damai gitu ya, nggak harus rusuh.
21:50Dengan kerusuhan begitu ya.
21:51Betul gitu.
21:52Dan nggak selalu juga kan berakhir bentrok ya misalnya.
21:56Jadi jangan sampai ada persepsi bahwa, ah ini demo nggak penting, aksi itu nggak penting gitu ya, mahasiswa nih ngapain
22:06sih gitu.
22:06Yang kedua juga jangan sampai misalnya orang jadi bingung membedakan loh, ketika ada demo beneran loh ini demo beneran apa
22:15nggak sih gitu kan.
22:16Karena kemarin udah tercipta situasi kayak, oh demo-demo ternyata nggak demo gitu ya.
22:20Terus ketika orang mau memberikan dukungan, bingung juga kita mau mendukung apa nggak sih gitu.
22:24Karena kan dukungan itu nggak harus juga turun ke jalan kan.
22:28Dukungan kan bisa juga misalnya kita share sesuatu di media sosial, kita ikut mengaplifikasi.
22:33Tapi ketika kita mau mengaplifikasi, kita kan jadi ragu.
22:36Ah kemarin katanya hoax, sekarang nggak.
22:37Jadi jangan sampai kita, jangan sampai hoax-hoax ini menghambat atau membuat kita jadi tidak memberikan dukungan pada gerakan-gerakan
22:48masyarakat sipil.
22:50Dan yang terakhir, kalau saya sebenarnya sangat khawatir, jangan sampai juga ini membuat kita atau jangan sampai mengukuhkan persepsi bahwa
23:02misalnya media itu tidak meliput gitu ya.
23:06Bahwa media itu sebenarnya tidak berpihak ke warga, ke publik gitu.
23:10Itu sih yang sangat mengkhawatirkan dengan adanya hoax ini.
23:14Iya, sebenarnya kalau untuk demonstrasi itu sangat diperbolehkan ya di Indonesia.
23:22Demonstrasi kemudian penyampaian pendapat.
23:25Namun jangan sampai diikut sertakan aksi perusahaan dan juga aksi pembakaran seperti yang terjadi beberapa waktu lalu seperti itu ya
23:34Bu ya.
23:36Ya, pembakaran kan juga masih ini ya, karena berdasarkan investigasi beberapa media juga kan itu ada dalangnya kan.
23:47Oknum-oknum yang melakukan, betul.
23:49Betul, dan bukan dari masyarakat lah.
23:52Masyarakat, iya betul.
23:53Baik, Ibu, ingat terima kasih atas waktunya, atas perbincangan hari ini.
23:58Kita akan pantau terus terkait yang terjadi di media sosial, yang terjadi di Indonesia.
24:04Kita akan doakan semoga Indonesia memang tetap aman dan kedepannya masyarakat akan bersatu seperti itu.
24:14Amin.
24:15Terima kasih, Ibu.
24:17Terima kasih, Mbak Sinta.
24:18Selamat menelanjutkan aktivitas kembali.
24:19Terima kasih, selamat siang.
24:21Siang.
24:23Terima kasih, Mbak Sinta.
Komentar

Dianjurkan