Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV Musim kemarau yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia berdampak pada minimnya air bersih bagi warga. Di Desa Slangit, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon, sejumlah sumur warga mengering.

Demi memenuhi kebutuhan mandi dan mencuci, warga terpaksa menyedot air dari selokan untuk mengisi sumur. Meski air berwarna keruh dan berbau, cara ini menjadi pilihan agar aktivitas sehari-hari tetap berjalan.

Untuk kebutuhan minum dan memasak, warga memilih membeli air galon dari jasa isi ulang. Pemerintah Desa Slangit menyebut kondisi kekeringan terjadi hampir setiap tahun saat musim kemarau.

Sekitar 80 persen warga memanfaatkan air dari saluran irigasi maupun selokan untuk mandi, mencuci, dan kakus. Hingga kini, bantuan air bersih masih menjadi solusi sementara, sementara warga menunggu sumber air bersih permanen.

#kekeringan #airbersih #cirebon #musimkemarau #jawaBarat

Baca Juga Kemarau Panjang dan Kekeringan, Pakar Mitigasi Bencana Dorong Penguatan BNPB di https://www.kompas.tv/nasional/683990/kemarau-panjang-dan-kekeringan-pakar-mitigasi-bencana-dorong-penguatan-bnpb

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/684572/sumur-mengering-warga-cirebon-terpaksa-mandi-dengan-air-selokan-kompas-siang
Transkrip
00:01Saudara, musim kemarau yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia berdampak pada minimnya air bersih bagi warga.
00:07Di Cirebon, warga terpaksa menyedot air dari selokan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
00:17Sejumlah sumur warga di Desa Selangit, Kecamatan Kelangenan, Kabupaten Cirebon mengering.
00:22Demi memenuhi kebutuhan mandi dan mencuci, warga terpaksa menyedot air dari selokan untuk diisi ke dalam sumur mereka.
00:30Meski air berwarna keruh dan berbau, cara ini menjadi satu-satunya pilihan agar aktivitas sehari-hari tetap berjalan.
00:37Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan minum dan memasak, mereka memilih membeli air galon dari jasa isi ulang.
00:45Setengah bulan sebutnya tepung, sebutnya beli, setengah bulan.
00:49Bau nggak sih, Bu, airnya?
00:51Ya, di anu dikiteng kok, pakai selurong dina, tolim dina, tolim daun.
00:55Diendapin dulu?
00:56Iya.
00:57Terus gatel nggak ke ibu badannya?
00:59Ya, sebut gatel sebut beli, airnya sendiknya gatel.
01:03Biasa ya, Bu?
01:04Iya.
01:04Iya.
01:07Pemerintah desa Selangit bilang kondisi kegeringan ini terjadi hampir setiap tahun saat musim kemarau.
01:12Akibatnya, sekitar 80 persen warga terpaksa memanfaatkan air dari saluran imigrasi maupun selokan untuk memenuhi kebutuhan mandi, mencuci, dan kakus.
01:24Warga mungkin karena sudah biasa ya, jadi tidak ada keluhan, karena tidak ada pilihan lain sih.
01:30Jadi, pilihannya hanya kalau buat mandi sama mencuci itu dapatnya dari sini.
01:35Selokan ya, Pak?
01:36Selokan.
01:37Kalau buat minum, mungkin masyarakat beli diisi ulang.
01:41Kalau menurut masyarakat kami memang bau ada, gatel-gatel juga ada.
01:46Cuman mau bagaimana lagi gitu, adanya seperti ini.
01:49Ini rata-rata setiap rumah pakenya air selokan, Pak?
01:53Rata-rata.
01:54Rata-rata.
01:55Karena kebetulan desa Selangit sumber mata air tanahnya itu berkurang atau sedikit.
02:01Hingga kini, bantuan air bersih masih menjadi solusi sementara bagi warga desa Selangit.
02:07Warga menunggu hadirnya sumber air bersih yang permanen.
02:10Tim Liputan Kompas TV
Komentar

Dianjurkan